Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Nama-nama Nabi dan Ibu Susu Beliau

Pemberian nama “Muhammad” adalah Taufiq dari Allah ‘azza wajalla.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّدٌ

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidakkah kalian takjub (kagum) bagaimana Allah menghindarkan aku dari caci-maki Quraisy dan sumpah-serapah mereka? Mereka mencaci maki mudzammam (orang yang banyak dicela) dan mereka melaknat mudzammam, padahal aku adalah muhammad (orang yang banyak dipuji).”
[HR al-Bukhari no. 3269, an-Nasai no. 3384, Ahmad no. 7029]

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِي أَسْمَاءً أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِيَ الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي وَأَنَا الْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدِي نَبِيٌّ

Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku memiliki beberapa nama. Aku adalah Muhammad, Ahmad, al-Mahi (Penghapus) yang denganku Allah menghapus kekufuran, al-Hasyir (Penghimpun) yang manusia dikumpulkan di atas kakiku, al-‘Aqib (Pemungkas) yang tiada lagi Nabi setelahku.”
[HR at-Tirmidzi no. 2766, al-Bukhari no. 3268, Muslim no. 4342, ad-Darimi no. 2656, Ahmad no. 16134, Malik no. 1595]

Ibu Susu Beliau

عَنْ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ انْكِحْ أُخْتِي بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ فَقَالَ أَوَتُحِبِّينَ ذَلِكِ فَقُلْتُ نَعَمْ لَسْتُ لَكَ بِمُخْلِيَةٍ وَأَحَبُّ مَنْ شَارَكَنِي فِي خَيْرٍ أُخْتِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ ذَلِكِ لَا يَحِلُّ لِي قُلْتُ فَإِنَّا نُحَدَّثُ أَنَّكَ تُرِيدُ أَنْ تَنْكِحَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ بِنْتَ أُمِّ سَلَمَةَ قُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ لَوْ أَنَّهَا لَمْ تَكُنْ رَبِيبَتِي فِي حَجْرِي مَا حَلَّتْ لِي إِنَّهَا لَابْنَةُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ أَرْضَعَتْنِي وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَةُ فَلَا تَعْرِضْنَ عَلَيَّ بَنَاتِكُنَّ وَلَا أَخَوَاتِكُنَّ قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

Dari Ummu Habibah binti Abu Sufyan bahwa ia pernah berkata, “Wahai Rasulullah, nikahilah saudariku, putri Abu Sufyan”. Maka beliau balik bertanya, “Apakah engkau suka hal itu?” Saya menjawab, “Ya. Namun saya tidak mau ditinggalkan oleh engkau. Hanya saja aku suka bila saudariku ikut serta denganku dalam kebaikan.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Sesungguhnya hal itu tidaklah halal bagiku.” Saya berkata lagi, “Diberitakan bahwa engkau ingin menikahi putri Abu Salamah”. Beliau bertanya, “Putri Ummu Salamah?” Saya menjawab, “Ya”. Maka beliau bersabda, “Meskipun ia bukan anak tiriku, ia tidaklah halal bagiku. Sesungguhnya ia adalah anak saudaraku sesusuan. Tsuwaibah pernah menyusuiku dan juga Abu Salamah. Karena itu, janganlah kalian menawarkan anak-anak dan saudari-saudari kalian padaku!” ‘Urwah berkata, “Tsuwaibah adalah maula (mantan budak yang dimerdekakan oleh) Abu Lahab. Waktu itu, Abu Lahab memerdekakannya, lalu Tsuwaibah pun menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika Abu Lahab mati, ia pun diperlihatkan kepada sebagian keluarganya di dalam mimpi dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Sang kerabat berkata padanya, “Apa yang engkau dapatkan?” Abu Lahab berkata, “Saya belum pernah mendapati sesuatu nikmat pun setelah kalian. Hanya saja saya diberi minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah”.
[HR al-Bukhari no. 4711, Muslim no. 2626, Abu Dawud no. 1760, an-Nasai no. 3232, Ahmad no. 25414]

Tanggal Kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Beliau dilahirkan pada qurun atau masa terbaik dalam kehidupan ummat manusia.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ قَرْنًا فَقَرْنًا حَتَّى كُنْتُ مِنْ الْقَرْنِ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Saya diutus pada qurun terbaik dari Bani Adam, qurun demi qurun. Hingga saya berada pada qurun yang saya berada di dalamnya.”
[HR al-Bukhari no. 3293, Ahmad no. 8502]

Beliau dilahirkan pada Tahun Gajah, bulan Rabiul Awwal, hari Senin. Atau bulan April tahun 571 Masehi. Tanggalnya diperselisihkan; ada yang mengatakan tanggal 8, tanggal 12, dan yang lainnya. 

عَنْ مَخْرَمَةَ قَالَ وُلِدْتُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيلِ وَسَأَلَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ قُبَاثَ بْنَ أَشْيَمَ أَخَا بَنِي يَعْمَرَ بْنِ لَيْثٍ أَأَنْتَ أَكْبَرُ أَمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْبَرُ مِنِّي وَأَنَا أَقْدَمُ مِنْهُ فِي الْمِيلَادِ وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيلِ وَرَفَعَتْ بِي أُمِّي عَلَى الْمَوْضِعِ قَالَ وَرَأَيْتُ خَذْقَ الطَّيْرِ أَخْضَرَ مُحِيلًا

Dari Makhramah berkata, “Saya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada Tahun Gajah”. ‘Utsman bin ‘Affan bertanya kepada Qubats bin Asyyam, saudaranya Bani Ya’mar bin Laits, “Apakah engkau yang lebih besar (maksudnya: lebih tua usianya) ataukah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Maka dia menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih besar (maksudnya: lebih agung) daripadaku, sedangkan saya lebih dahulu dilahirkan daripada beliau. 1) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada Tahun Gajah, ketika ibuku sudah mengangkatku di atas tempatku.” Dia berkata, “Dan saya juga sempat melihat kotoran burung itu telah berubah menjadi hijau”. 
[HR at-Tirmidzi no. 3552]

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

Dari Abu Qatadah al-Anshary radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau bersabda, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu (pertama kali) kepadaku”.
[HR Muslim no. 1977, Ahmad no. 21501]

Tanda-tanda Sebelum Kelahiran Nabi

عَنْ أَبَا أُمَامَةَ قَالَ قُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ مَا كَانَ أَوَّلُ بَدْءِ أَمْرِكَ قَالَ دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ وَبُشْرَى عِيسَى وَرَأَتْ أُمِّي أَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ مِنْهَا قُصُورُ الشَّامِ

Dari Abu Umamah berkata: Aku pernah bertanya, “Wahai Nabi Allah, bagaimana permulaan urusan Anda?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Doa ayahku (kakek moyangku) Ibrahim serta khabar gembira ‘Isa. Dan ibuku pernah bermimpi melihat cahaya keluar dari tubuhnya dan cahaya itu menyinari istana-istana Syam.”
[HR Ahmad no. 21231]

عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ السُّلَمِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَإِنَّ آدَمَ لَمُنْجَدِلٌ فِي طِينَتِهِ وَسَأُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِ ذَلِكَ دَعْوَةِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ وَبِشَارَةِ عِيسَى قَوْمَهُ وَرُؤْيَا أُمِّي الَّتِي رَأَتْ أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ وَكَذَلِكَ تَرَى أُمَّهَاتُ النَّبِيِّينَ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ

Dari al-‘Irbadh bin Sariyah as-Sulami berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Saya adalah hamba Allah, di Ummul Kitab (Lauh al-Mahfuz) adalah penutup para Nabi. Sedangkan Adam dahulu tergeletak di tanah. Dan saya akan memberitahukan kepada kalian ta’wil hal itu. (Yaitu) doa bapakku Ibrahim, khabar gembira ‘Isa kepada kaumnya, dan mimpi ibuku yang melihat (dalam mimpinya) bahwasanya keluar dari (rahim)nya cahaya yang menyinari istana-istana Syam. Dan demikianlah (biasanya) mimpi ibu-ibu para Nabi shalawatullahi ‘alaihim.”
[HR Ahmad no. 16537]

عَنْ حَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ وَاَللَّهِ إنِّي لَغُلَامٌ  يَفَعَةٌ ابْنُ سَبْعِ سِنِينَ أَوْ ثَمَانٍ أَعْقِلُ كُلَّ مَا سَمِعْتُ إذْ سَمِعْتُ يَهُودِيًّا يَصْرُخُ بِأَعْلَى صَوْتِهِ عَلَى أَطَمَةٍ بِيَثْرِبَ يَا مَعْشَرَ يَهُودِ، حَتَّى إذَا اجْتَمَعُوا إلَيْهِ قَالُوا لَهُ وَيلك مَالك؟ قَالَ طَلَعَ اللَّيْلَةَ نَجْمُ أَحْمَدِ الَّذِي وُلِدَ بِهِ.

Dari Hassan bin Tsabit berkata, “Demi Allah, sungguh saya (dahulu) adalah seorang anak laki berusia tujuh atau delapan tahun, (waktu itu) saya telah mengerti semua yang saya dengar. Ketika saya mendengar seorang Yahudi berteriak dengan sekeras-keras suaranya, di atas perbukitan Yatsrib, “Wahai orang-orang Yahudi!” Maka ketika mereka berkumpul di hadapannya, mereka berkata kepadanya, “Ada apa denganmu?” Dia berkata, “Telah muncul malam ini bintang Ahmad yang menandai kelahirannya!”
[Sirah Nabawiyah oleh Ibnu Hisyam dengan sanad Hasan] 

Nasab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ. ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِن بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. 

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran di atas segala umat (di masa mereka masing-masing), satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari sebagian yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
[QS Ali Imran 3:33]

عَنْ الْمُطَّلِبِ بْنِ أَبِي وَدَاعَةَ قَالَ جَاءَ الْعَبَّاسُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَأَنَّهُ سَمِعَ شَيْئًا فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ مَنْ أَنَا فَقَالُوا أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْكَ السَّلَامُ قَالَ أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ فَجَعَلَنِي فِي خَيْرِهِمْ فِرْقَةً ثُمَّ جَعَلَهُمْ فِرْقَتَيْنِ فَجَعَلَنِي فِي خَيْرِهِمْ فِرْقَةً ثُمَّ جَعَلَهُمْ قَبَائِلَ فَجَعَلَنِي فِي خَيْرِهِمْ قَبِيلَةً ثُمَّ جَعَلَهُمْ بُيُوتًا فَجَعَلَنِي فِي خَيْرِهِمْ بَيْتًا وَخَيْرِهِمْ نَسَبًا

Dari al-Muththalib bin Abu Wada'ah ia berkata: al-‘Abbas datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu seolah-olah beliau mendengar sesuatu. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di atas mimbar dan berkata, “Siapakah saya?” Mereka (para Sahabat) menjawab, “Anda adalah Rasul Allah ‘alaikassalam (keselamatan semoga tercurah atasmu). Beliau berkata, “Saya adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib. Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk, dan menjadikan aku berada di dalam bagian yang terbaik diantara mereka (yakni golongan manusia). Kemudian Dia menjadikan (golongan manusia) itu dua bagian (ahli surga dan ahli neraka), maka Dia menjadikan aku dalam bagian yang terbaik (yakni ahli surga). Kemudian Allah menjadikan mereka berkabilah-kabilah, dan menjadikan aku dalam kabilah terbaik diantara mereka. Kemudian Dia menjadikan mereka dalam rumah-rumah (keluarga-keluarga) maka Dia menjadikan aku dalam rumah terbaik diantara mereka, dan nasab (keturunan) yang terbaik diantara mereka.”
[HR at-Tirmidzi no. 3455]

عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِبْرَاهِيمَ إِسْمَعِيلَ وَاصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ بَنِي كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ بَنِي كِنَانَةَ قُرَيْشًا وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

Dari Watsilah bin al-Asqa' radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memilih Isma'il dari anak keturunan Ibrahim dan memilih Kinanah dari anak keturunan Ismail, dan memilih Quraisy dari Bani Kinanah, dan memilih Hasyim dari suku Quraisy serta memilihku dari Bani Hasyim.”
[HR at-Tirmidzi no. 3538, Ahmad no. 16372]

Dari Hadits ini diketahui bahwa beliau berasal dari kabilah Bani Hasyim, suku Quraisy, yang merupakan keturunan Kinanah, sedang Kinanah adalah keturunan Nabi Ismail putra Nabi Ibrahim ‘alaihimassalam.

Berikut nasab yang disepakati oleh para ahli Tarikh: Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muththalib bin Hasyim bin ‘Abd Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaymah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazzar bin Ma’ad bin ‘Adnan. 

Ibu beliau adalah Aminah binti Wahab bin ‘Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah. Nasab ibu dan ayah beliau bertemu di datuk beliau yang kelima yaitu Kilab.

The Prehistoric Period (Zaman Prasejarah)

The Prehistoric period of human history, before written records were kept, is often divided into three main eras: the Stone Age, the Bronze ...