Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

40 Hadits Seputar Ramadhan (9)


40

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

Dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri satu sha' dari kurma atau satu sha' dari gandum (yang wajib dikeluarkan atas) setiap hamba sahaya (budak) maupun yang merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar dari kaum muslimin. Dan beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang berangkat untuk shalat hari raya (Idul Fitri).”
[HR al-Bukhari no. 1407, Abu Dawud no. 1373]

41

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ الْأَضْحَى

Dari Abu Sa'id dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwasanya beliau melarang puasa pada hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adlha.
[HR al-Bukhari no. 1855, Ibnu Majah no. 1711]

42

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak berangkat shalat Idul Fitri sebelum makan beberapa butir kurma, dan beliau makan dengan jumlah ganjil”.
[HR al-Bukhari no. 900]

43

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggal dunia dan memiliki hutang puasa maka walinya yang berpuasa untuknya”.
[HR al-Bukhari no. 1816, Muslim no. 1935]

44

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا فَقَالَ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, “Sesungguhnya ibuku telah meninggal, dan ia memiliki hutang puasa satu bulan. Apakah saya harus menunaikannya?” Beliau menjawab: “Seandainya ibumu memiliki hutang uang, apakah kamu harus membayarkannya?” Laki-laki itu menjawab, “Ya”. Beliau bersabda: “Maka hutang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi”.
[HR Muslim no. 1937, al-Bukhari no. 1817]

45

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, adalah seperti berpuasa sepanjang masa”.
[HR Muslim no. 1984, at-Tirmidzi no. 690]

46

عَنْ سَهْلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

Dari Sahal radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Dalam surga ada sebuah pintu yang disebut ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk lewat pintu itu pada Hari Kiamat. Tidak seorang pun yang masuk lewat pintu itu selain mereka. Dikatakan, “Mana orang-orang yang berpuasa?” Maka berdirilah mereka, tidak seorang pun yang bisa masuk lewat pintu itu selain mereka. Maka bila mereka telah masuk, ditutuplah pintu itu sehingga tidak seorangpun yang bisa masuk lewat pintu itu.”
[HR al-Bukhari no. 1763, Muslim no. 1947]

40 Hadits Seputar Ramadhan (8)


35

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar (mengisi dengan ibadah) karena iman dan ihtisab (mencari pahala dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.
[HR al-Bukhari no. 1768, Muslim no. 1268]

36

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beri'tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga Allah mewafatkannya. Kemudian isteri-isteri beliau beri'tikaf setelah kepergian beliau.
[HR al-Bukhari no. 1886, Muslim no. 2006]

37

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي رَمَضَانَ الْعَشْرَ الَّتِي فِي وَسَطِ الشَّهْرِ فَإِذَا كَانَ حِينَ يُمْسِي مِنْ عِشْرِينَ لَيْلَةً تَمْضِي وَيَسْتَقْبِلُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَجَعَ إِلَى مَسْكَنِهِ وَرَجَعَ مَنْ كَانَ يُجَاوِرُ مَعَهُ وَأَنَّهُ أَقَامَ فِي شَهْرٍ جَاوَرَ فِيهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ يَرْجِعُ فِيهَا فَخَطَبَ النَّاسَ فَأَمَرَهُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ قَالَ كُنْتُ أُجَاوِرُ هَذِهِ الْعَشْرَ ثُمَّ قَدْ بَدَا لِي أَنْ أُجَاوِرَ هَذِهِ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَثْبُتْ فِي مُعْتَكَفِهِ وَقَدْ أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا فَابْتَغُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَابْتَغُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ فَاسْتَهَلَّتْ السَّمَاءُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ فَأَمْطَرَتْ فَوَكَفَ الْمَسْجِدُ فِي مُصَلَّى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ فَبَصُرَتْ عَيْنِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَظَرْتُ إِلَيْهِ انْصَرَفَ مِنْ الصُّبْحِ وَوَجْهُهُ مُمْتَلِئٌ طِينًا وَمَاءً

Dari Abu Sa'id al-Khudriy radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan i'tikaf di bulan Ramadhan pada sepuluh malam pertengahan bulan. Kemudian ketika melewati malam ke dua puluh menjelang malam kedua puluh satu, beliau datang kembali ke tempat khusus i'tikaf beliau, dan kembali pula orang-orang yang tadi beri'tikaf bersama beliau. Dan pada malam beliau kembali beri'tikaf di bulan tersebut, beliau berdiri dan menyampaikan khuthbah di hadapan orang-orang, lalu memerintahkan mereka mengikuti apa yang Allah kehendaki. Kemudian beliau bersabda: “Aku sudah melaksanakan i'tikaf pada sepuluh malam sebelumnya dari bulan ini kemudian dinampakkan kepadaku agar beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir. Maka siapa yang telah beri'tikaf bersamaku tetaplah pada tempatnya beri'tikaf. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku tentang malam Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti. Maka carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan carilah pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat diriku sujud diatas air dan tanah.” Kemudian langit tampak mendung pada malam itu lalu turunlah hujan hingga masjid bocor dan mengenai tempat shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada malam kedua puluh satu. Maka mataku memandang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan aku melihat beliau setelah Shubuh, sedang wajah beliau penuh dengan tanah dan air.”
[HR al-Bukhari no. 1879, Muslim no. 1993]

38

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila memasuki sepuluh (yang akhir dari Ramadhan), beliau mengencangkan sarung beliau, menghidupkan malamnya (dengan ibadah) dan membangunkan keluarganya (untuk shalat malam”.
[HR al-Bukhari no. 1884, Ahmad no. 23241]

39

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِلْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Carilah ia pada sepuluh terakhir (Ramadhan), yakni Lailatul Qadr. Maka jika salah seorang dari kalian tidak sempat atau tidak mampu, maka jangan sampai terlewatkan pada tujuh malam terakhir.”
[HR Muslim no. 1989, Ahmad no. 1056]

40 Hadits Seputar Ramadhan (7)


32

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

Dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman bahwasanya dia pernah bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka 'Aisyah menjawab, “Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka'at. Beliau shalat empat raka'at, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat empat raka'at lagi, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat tiga raka'at.” 'Aisyah melanjutkan, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?” Beliau menjawab: "Wahai 'Aisyah, kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur”.
[HR al-Bukhari no. 1079, Muslim no. 1219]

33

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ لَيْلَةً مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَصَلَّى فَصَلَّوْا مَعَهُ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar di tengah malam lalu melaksanakan shalat di masjid, dan beberapa orang shalat mengikuti shalat beliau. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut. Maka pada malam berikutnya, berkumpul lah lebih banyak orang, lalu beliau shalat dan mereka mengikuti shalat beliau. Pada malam ketiga, orang-orang yang berkumpul di masjid bertambah banyak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar lalu melaksanakan shalat dan mereka mengikuti shalat beliau. Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jama'ah hingga beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah beliau selesai shalat Fajar, beliau menghadap kepada orang banyak lalu membaca syahadat kemudian bersabda: “Amma ba'du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku kuatir nanti menjadi diwajibkan atas kalian lalu kalian berat melaksanakannya.” Maka setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat, urusan (shalat tarawih) itu tetap seperti itu.
[HR al-Bukhari no. 1873, Ibnu Hibban no. 141]

34

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

Dari 'Abdurrahman bin 'Abdul Qariy bahwa dia berkata: Aku keluar bersama 'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pada malam Ramadhan menuju masjid. Ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara berpencar-pencar. Ada orang yang shalat sendirian dan ada orang yang shalat diikuti oleh beberapa orang (ma’mum). Maka 'Umar berkata, “Aku pikir seandainya aku mengumpulkan mereka ini dengan dengan dipimpin satu orang qari’ (imam) sungguh lebih baik”. Kemudian 'Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka (shalat berjama'ah) dipimpin oleh Ubay bin Ka'ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama'ah dengan dipimpin seorang imam. 'Umar berkata, “Sebaik-baik bid'ah adalah ini, dan yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam”. Yang ia maksud ialah shalat di akhir malam. Sedangkan orang-orang (pada umumnya) melakukan shalat di awal malam.
[HR al-Bukhari no. 1871, Malik no. 231] 

40 Hadits Seputar Ramadhan (6)


28

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan untuk berbuka”.
[HR Muslim no. 1838, al-Bukhari no. 1821]

29

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِنَّهُ بَرَكَةٌ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ تَمْرًا فَالْمَاءُ فَإِنَّهُ طَهُورٌ

Dari Salman bin 'Amir bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Jika seseorang kalian berbuka maka berbukalah dengan kurma karena kurma itu mengandung berkah. Jika dia tidak mendapatkan kurma, maka dengan air minum karena sesungguhnya air itu suci dan pembersih.”
[HR at-Tirmidzi no. 594, Ibnu Majah no. 1689]

30

عَنْ أُمِّ مَعْقِلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً

Dari Umu Ma'qil dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Umrah pada bulan Ramadhan setara (pahalanya) dengan haji”.
[HR at-Tirmidzi no. 861, Ibnu Majah no. 2982]

31

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah manusia yang paling pemurah (dermawan), dan beliau menjadi lebih pemurah lagi pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril datang menemuinya. Dan Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan, lalu ia mengajarkan beliau al-Quran. Maka sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lebih pemurah melakukan kebaikan daripada angin yang berhembus.”
[HR al-Bukhari no. 5, Muslim no. 4268] 

40 Hadits Seputar Ramadhan (5)


24

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ مَا لَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا فَقَالَ فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا قَالَ فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ قَالَ أَيْنَ السَّائِلُ فَقَالَ أَنَا قَالَ خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ 

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Ketika kami sedang duduk bermajelis bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiba-tiba datang seorang laki-laki lalu berkata, “Wahai Rasulullah, binasalah aku!”. Beliau bertanya: “Ada apa denganmu?” Orang itu menjawab, “Aku telah berhubungan dengan isteriku sedangkan aku sedang berpuasa”. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: “Apakah kamu bisa mendapatkan budak untuk kamu bebaskan?” Orang itu menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya: “Apakah kamu sanggup berpuasa selama dua bulan berturut-turut?” Orang itu menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya: “Apakah kamu bisa mendapatkan makanan untuk diberikan kepada enam puluh orang miskin?” Orang itu menjawab, “Tidak”. Sejenak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terdiam. Ketika kami masih dalam keadaan tadi, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diberikan satu keranjang besar berisi kurma. Beliau bertanya: “Mana orang yang bertanya tadi?” Orang itu menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Ambillah keranjang ini dan bersedekahlah dengan kurma ini”. Orang itu bertanya, “Apakah aku bersedekah kepada orang yang lebih faqir dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada keluarga yang tinggal diantara dua perbatasan (yang dia maksud adalah dua gurun pasir) yang lebih faqir daripada keluargaku.” Mendengar itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tertawa hingga tampak gigi seri beliau. Kemudian beliau bersabda: “Berilah makan keluargamu dengan kurma itu”.
[HR al-Bukhari no. 1800, Muslim no. 1870]

25

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ وَاحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ

Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berbekam ketika sedang berihram dan pernah pula berbekam ketika sedang berpuasa.
[HR al-Bukhari no. 1802]

Bekam (Canduk) ialah suatu terapi pengobatan yang dilakukan dengan mengeluarkan darah dari tubuh seseorang menggunakan peralatan tertentu.

26

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَرَأَى زِحَامًا وَرَجُلًا قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ فَقَالَ مَا هَذَا فَقَالُوا صَائِمٌ فَقَالَ لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ

Jabir bin 'Abdullah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah dalam suatu perjalanan melihat kerumunan orang, yang diantaranya ada seseorang yang sedang dipayungi. Beliau bertanya: “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Orang ini sedang berpuasa”. Maka Beliau bersabda: “Bukanlah suatu kebajikan berpuasa dalam safar (perjalanan jauh)”.
[HR al-Bukhari no. 1810, Muslim no. 1879]

27

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَعِبْ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Kami pernah bepergian (safar) bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka (tidak berpuasa) dan orang yang berbuka juga tidak mencela orang yang berpuasa”.
[HR al-Bukhari no. 1811, Muslim no. 1884]

40 Hadits Seputar Ramadhan (4)


19

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَكَلَ نَاسِيًا وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa makan karena lupa bahwa dia sedang berpuasa, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya. Karena sesungguhnya Allah yang telah memberinya makan dan memberinya minum.”
[HR al-Bukhari no. 6176, Muslim no. 1952]

20

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mencium dan mencumbu (isteri-isteri beliau) padahal beliau sedang berpuasa. Dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan nafsunya dibanding kalian.”
[HR al-Bukhari no. 1792, at-Tirmidzi no. 661]

21

عَنْ لَقِيطِ بْنِ صَبِرَةِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي عَنْ الْوُضُوءِ قَالَ أَسْبِغْ الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

Dari Laqhith bin Shabirah berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang wudhu?” Beliau menjawab: “Sempurnakanlah wudhu, basuhlah sela-sela jarimu dan lakukanlah istinsyaq (membersihkan rongga hidung) dalam-dalam, kecuali jika kamu sedang berpuasa.”
[HR at-Tirmidzi no. 718, Abu Dawud no. 123]

Istinsyaq adalah membersihkan rongga hidung dengan cara menghirup air ke dalam hidung kemudian menyemburkannya kembali.

22

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ أَحَدٌ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Apabila hari seseorang kalian berpuasa, maka janganlah ia berbuat rafats (berbuat atau berkata yang tidak senonoh) dan jangan berbantah-bantahan. Maka jika ada seseorang mencelanya atau mengajaknya bertengkar, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku berpuasa”.
[HR Ahmad no. 24875, al-Bukhari no. 1771]

23

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ بِأَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya (tidak menerima puasanya –pent.)
[HR at-Tirmidzi no. 641, al-Bukhari no. 1770]

40 Hadits Seputar Ramadhan (3)

14

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Makan sahur lah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu mengandung berkah”.
[HR al-Bukhari no. 1789, Muslim no. 1835]

15

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu berkata: Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian beliau bangkit untuk melaksanakan shalat (Shubuh). Aku bertanya, “Berapa lama antara adzan (Shubuh) dan sahur?” Dia menjawab, “Sekadar bacaan lima puluh ayat."
[HR al-Bukhari no. 1787, at-Tirmidzi no. 638]

16

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ بِلَالًا كَانَ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ قَالَ الْقَاسِمُ وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَ أَذَانِهِمَا إِلَّا أَنْ يَرْقَى ذَا وَيَنْزِلَ ذَا

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Bilal biasa melakukan adzan (pertama) di malam hari (sebelum masuk waktu fajar), maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum melakukan adzan, karena dia tidak melakukan adzan kecuali setelah terbit fajar”. Al-Qasim (salah seorang perawi –pent.) berkata, “Jarak antara adzan keduanya itu hanyalah sekadar yang satunya naik (menuju menara –pent.) dan yang satunya lagi turun (maksudnya waktunya tidak begitu lama, sekadar orang-orang sempat makan sahur –pent.).”
[HR al-Bukhari no. 1785]

17

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ اَلْوِصَالِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ فَإِنَّكَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ تُوَاصِلُ قَالَ وَأَيُّكُمْ مِثْلِي إِنِّي أَبِيتُ يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي فَلَمَّا أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا عَنِ اَلْوِصَالِ وَاصَلَ بِهِمْ يَوْمًا ثُمَّ يَوْمًا ثُمَّ رَأَوُا اَلْهِلَالَ فَقَالَ لَوْ تَأَخَّرَ اَلْهِلَالُ لَزِدْتُكُمْ كَالْمُنَكِّلِ لَهُمْ حِينَ أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari puasa wishal. Ada seorang muslim yang menyanggah, “Sesungguhnya engkau sendiri melakukan puasa wishal?” Rasul pun bersabda: “Siapa yang semisal denganku? Sesungguhnya aku di malam hari diberi makan dan minum oleh Rabbku.” Lantaran mereka tidak mau berhenti dari puasa wishal, Nabi berpuasa wishal bersama sehari lagi kemudian sehari berikutnya. Lalu mereka melihat hilal (awal masuk bulan Syawal), beliau pun bersabda: “Seandainya hilal itu tertunda, aku akan menyuruh kalian menambah puasa wishal lagi”. Sebagai bentuk hukuman bagi mereka yang enggan berhenti dari puasa wishal.
[HR Bukhari no. 1965 dan Muslim no. 1103]

18

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ

Dari 'Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendapatkan waktu fajar sedangkan beliau dalam keadaan junub karena (berhubungan dengan) istrinya. Kemudian beliau mandi dan berpuasa.
[HR al-Bukhari no. 1791, Muslim no. 1865]

40 Hadits Seputar Ramadhan (2)

10

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ 

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Allah Ta'ala berfirman: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasanya. Puasa itu adalah benteng, apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan puasa, maka janganlah dia berbuat rafats (tak senonoh) dan jangan berbuat keributan. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya bertengkar, maka hendaklah dia berkata, “Aku sedang berpuasa”. Demi (Allah) yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada wangi misik. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang dia akan bergembira dengan keduanya. Apabila berbuka dia bergembira dan apabila berjumpa dengan Tuhannya dia bergembira karena puasanya.”
[HR al-Bukhari no. 1771, Muslim no. 1944]

11

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Puasa itu benteng, maka janganlah ia berbuat rafats (tidak senonoh) dan jangan pula berbuat bodoh (sia-sia). Apabila ada orang yang mengajaknya bertengkar atau menghinanya maka katakanlah, “Aku berpuasa” (dua kali). Demi (Allah) yang jiwaku di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah Ta'ala daripada wangi misik. (Allah berfirman), Dia meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, sedangkan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang setimpal.”
[HR al-Bukhari no. 1761, Ahmad no. 7181]

12

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

Dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah, kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh ribu musim”.
[HR Muslim no. 1948, an-Nasai no. 2216]

13

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menginfaqkan dua pasang (hartanya) di jalan Allah, dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, “Wahai hamba Allah, inilah kebaikan (pahala dari apa yang kamu amalkan). Maka siapa yang dari ahlu shalat, dia dipanggil dari pintu shalat. Sapa yang dari ahlu jihad, dia akan dipanggil dari pintu jihad. Siapa dari ahlu puasa dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan. Siapa dari ahlu shadaqah dia akan dipanggil dari pintu shadaqah.” Maka Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata, “Demi bapak dan ibuku (sebagai tebusan) untukmu wahai Rasulullah, jika seseorang dipanggil diantara pintu-pintu tersebut adalah suatu kepastian, maka adakah orang yang akan dipanggil dari semua pintu-pintu itu?” Beliau menjawab: “Ya, dan aku berharap kamu termasuk diantara mereka”.
[HR al-Bukhari no. 1764, Muslim no. 1705]

40 Hadits Seputar Ramadhan (1)

1

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Islam dibangun atas lima: Syahadat bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah”.
[HR at-Tirmidzi no. 2534, al-Bukhari no. 7]

2

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Bila bulan Ramadhan tiba, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan dibelenggulah setan-setan”.
[HR Muslim no. 1793, an-Nasai no. 2070]

3

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan ihtisab (mencari pahala *), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.
[HR al-Bukhari no. 37, Muslim no. 1268]

*) Ihtisab (mencari pahala dari Allah) dengan menjaga puasanya dari hal-hal yang bisa membatalkan atau mengurangi pahala puasanya.

4

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorang dari kalian mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari (sebelumnya); kecuali orang yang sudah biasa melaksanakan puasa (sunnah, berbetulan jatuh pada hari itu) maka silakan berpuasa pada hari itu.”
[HR al-Bukhari no. 1781]

5

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Dari 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam biasa berpuasa hingga kami mengatakan seolah-olah beliau tidak pernah tidak berpuasa, namun beliau juga biasa tidak berpuasa sehingga kami mengatakan seolah-olah beliau tidak pernah berpuasa. Maka aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau paling banyak melaksanakan puasa (sunnah) kecuali di bulan Sya'ban.”
[HR al-Bukhari no. 1833, Muslim no. 1958]

6

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Dari Usamah bin Zaid berkata: Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau banyak berpuasa dalam bulan-bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya'ban”. Beliau bersabda: “Itulah bulan yang orang-orang lalai darinya, bulan yang berada di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Dan ia adalah bulan yang di dalamnya amal-amal shaleh diangkat kepada Tuhan semesta alam. Maka aku suka bila amalku diangkat dan aku sedang berpuasa.”
[HR an-Nasai no. 2317, Ahmad no. 20758]

7

قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ الشُّغْلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Berkata Aisyah radhiyallahu 'anha, “Aku mempunyai hutang puasa Ramadhan, lalu aku belum mampu menunaikannya kecuali di bulan Sya'ban, karena kesibukanku dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam”.
[HR Muslim no. 1933]

8

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal bulan Ramadhan) dan berbukalah dengan melihatnya pula. Apabila kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah bilangan hari bulan Sya'ban menjadi tiga puluh.”
[HR al-Bukhari no. 1176]

9

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ شَهْرَانِ لَا يَنْقُصَانِ شَهْرَا عِيدٍ رَمَضَانُ وَذُو الْحَجَّةِ

Dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ada dua bulan yang tidak akan berkurang (balasan pahala dan kebaikannya, meskipun bilangan harinya terkadang kurang dari 30 hari –pent.), yaitu dua bulan hari raya: Ramadhan dan Dzulhijjah”.
[HR al-Bukhari no. 1779, Ahmad no. 19504]

Silaturahim Menjelang Ramadhan

Pak Hasan dan Bu Sutinah serta kedua anak mereka, Farid dan Farah, bermaksud mengunjungi rumah sanak famili menjelang bulan Ramadhan. Mereka membuat daftar nama dan alamat rumah yang akan mereka kunjungi. Rumah kakek dan nenek Farid dan Farah, serta rumah paman dan bibi mereka. Mereka ingin mempererat silaturahmi dengan keluarga dekat sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Mereka memulai kunjungan mereka dari rumah orangtua pak Hasan. Kakek dan nenek sangat senang dengan kedatangan keluarga tersebut dan menyajikan hidangan lezat untuk mereka. Mereka semua duduk bersama di ruang tamu dan berbincang-bincang, mengenang masa lalu dan berbagi cerita tentang kegiatan mereka saat ini.

Setelah menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama kakek dan nenek, Farid dan Farah melanjutkan perjalanan mereka ke rumah paman. Saudara bu Sutinah dan keluarganya itu sudah menanti kedatangan mereka dan menyambut mereka dengan hangat. Mereka juga menyajikan hidangan lezat, termasuk makanan khas daerah mereka yang sangat disukai oleh keluarga pak Hasan.

Kunjungan terakhir mereka adalah ke rumah bibi Farid dan Farah. Saudari pak Hasan itu sangat senang melihat keluarga tersebut. Mereka semua menikmati makanan ringan dan minuman yang disajikan. Mereka juga berbincang-bincang tentang kegiatan mereka sehari-hari dan hal-hal yang mereka nantikan di bulan Ramadhan yang akan segera tiba.

Setelah menyelesaikan kunjungan mereka, keluarga pak Hasan kembali pulang dengan hati yang bahagia dan senyum di wajah mereka. Mereka merasa terhubung lebih erat dengan keluarga dekat mereka dan merasa siap menghadapi bulan Ramadhan dengan semangat yang lebih besar.

Dalam perjalanan pulang, mereka menemukan seorang pria yang terluka di pinggir jalan. Mereka segera memberikan pertolongan dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Setelah memastikan bahwa pria tersebut mendapat perawatan yang tepat, mereka melanjutkan perjalanan pulang.

Meskipun ada sedikit insiden di perjalanan pulang, keluarga pak Hasan merasa sangat berbahagia dengan kunjungan mereka ke keluarga dekat mereka. Mereka merasa terhubung lebih erat dengan sanak famili mereka dan merasa siap menghadapi bulan Ramadhan dengan semangat yang lebih besar.

Membeli Buku Menyambut Ramadhan

Hari itu, keluarga Pak Budi sedang bersiap-siap pergi ke toko buku. Pak Budi ingin agar keluarganya lebih fokus pada kegiatan keagamaan dan beribadah selama bulan Ramadhan. Oleh karena itu, dia membawa istri dan anak-anaknya ke toko buku untuk membeli buku-buku Islami sebagai persiapan.

Sesampainya di toko buku, mereka langsung bergegas ke bagian buku-buku Islami. Aisyah dan Rizky, anak-anak Pak Budi, mencari buku tentang kisah-kisah nabi dan tokoh-tokoh Islam terkenal. Sedangkan Bu Sarah, ibu dari Aisyah dan Rizky, mencari buku tentang tafsir Al-Quran dan doa-doa.

Pak Budi sendiri mencari buku tentang manajemen waktu dan cara agar lebih fokus selama bulan Ramadhan. Setelah memilih buku-buku yang mereka inginkan, mereka keluar dari toko buku dan menuju ke mobil.

Namun, ketika melewati toko mainan yang bersebelahan dengan toko buku, anak-anak melihat mainan baru yang menarik. Mereka pun meminta ayah mereka untuk membelikan beberapa mainan tersebut. Awalnya, Pak Budi menolak permintaan anak-anaknya, karena ingin fokus pada pembelian buku-buku Islami.

Namun, ketika melihat wajah muram anak-anaknya, Pak Budi akhirnya setuju untuk membelikan beberapa mainan. Ia menyadari bahwa kebahagiaan dan keceriaan anak-anaknya juga sangat penting, dan mereka tidak selalu harus berfokus pada hal-hal keagamaan.

Setelah membeli mainan, mereka singgah di rumah makan untuk makan malam bersama. Di sana, mereka membicarakan buku-buku yang telah dibeli dan membagikan pengalaman tentang kegiatan keagamaan yang ingin mereka lakukan selama bulan Ramadhan.

Pak Budi bercerita tentang buku yang ia beli tentang manajemen waktu dan berbagi tips tentang cara agar fokus dalam beribadah. Bu Sarah juga berbicara tentang buku-buku tafsir Al-Quran yang ingin ia baca dan mencatat doa-doa yang akan dibacakan.

Anak-anak juga turut berpartisipasi dalam percakapan ini. Mereka bercerita tentang buku-buku kisah-kisah inspiratif yang mereka beli, dan bagaimana mereka ingin mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut.

Setelah makan malam bersama, keluarga Pak Budi pulang ke rumah dengan perasaan bahagia dan semangat yang tinggi untuk menyambut bulan Ramadhan. Mereka mempersiapkan diri untuk memulai perjalanan mereka menuju kesempurnaan iman dan kebaikan selama bulan yang mulia ini.

Keluarga Menyambut Bulan Ramadhan

Suatu hari, menjelang bulan Ramadhan, keluarga Amin sedang berkumpul di ruang keluarga. Ayah, ibu, dan kedua anak mereka, Ali dan Aisyah, sedang berdiskusi tentang persiapan untuk bulan suci tersebut.

Ayah: "Besok sudah masuk bulan Ramadhan, kita harus mempersiapkan diri dengan baik. Kalian sudah siap?"

Ali: "Iya, ayah. Aku sudah membuat jadwal kegiatan untuk Ramadhan."

Aisyah: "Aku juga, ayah. Aku sudah siap untuk menjalankan ibadah dengan baik."

Ibu: "Bagus sekali. Kalian bisa berbagi jadwal kalian dengan kami."

Ali: "Aku akan berusaha untuk lebih banyak membaca Al-Quran dan mengikuti pengajian di masjid."

Aisyah: "Aku juga ingin mengikuti pengajian dan juga membantu ibu membuat makanan untuk sahur dan berbuka."

Ayah: "Bagus sekali, anak-anak. Selain itu, kita juga harus berusaha untuk berbuat kebaikan pada orang lain di bulan Ramadhan ini."

Ali: "Iya, ayah. Aku ingin mencoba membantu orang-orang yang membutuhkan."

Aisyah: "Aku juga, ayah. Aku ingin memberikan sedekah dan membagikan makanan kepada orang yang kurang mampu."

Ibu: "Bagus sekali, anak-anak. Kalian sudah memiliki semangat yang baik dalam menjalankan ibadah dan berbuat kebaikan pada orang lain."

Ayah: "Nanti saat sahur dan berbuka, kita juga bisa makan bersama-sama ya."

Ali: "Iya, ayah. Aku suka kita makan bersama-sama."

Aisyah: "Aku juga, ayah. Kita harus mengingat Allah dalam setiap kegiatan kita selama Ramadhan."

Ayah: "Tepat sekali, Aisyah. Kita harus mengisi waktu kita dengan kegiatan yang bermanfaat dan berbuat kebaikan pada orang lain."

Mereka semua setuju dan senang menghabiskan waktu bersama sambil membicarakan kebaikan dan amal yang dapat dilakukan selama bulan suci Ramadhan. Mereka semua siap untuk menjalankan ibadah dan berbuat kebaikan di bulan Ramadhan, dan saling mendukung satu sama lain dalam menjalankannya.

Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Hai anak-anak! Apa kabar kalian? Sudah siap menyambut bulan suci Ramadhan? Bulan yang istimewa ini akan segera tiba. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi bulan yang penuh berkah ini.

Pertama-tama, apakah kalian suka membaca Al-Quran? Menjelang Ramadhan, kita bisa memperbanyak membaca Al-Quran. Tentunya juga dengan memperbagus bacaan dan tajwidnya. Kita juga bisa mempelajari arti dari ayat-ayat Al-Quran yang kita baca. Bagaimana, siapa yang sudah siap untuk membaca Al-Quran lebih banyak lagi?

Selain itu, kita juga harus mempersiapkan diri secara fisik dengan berolahraga dan menjaga pola makan. Di bulan Ramadhan, kita akan berpuasa seharian penuh. Jadi penting untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Kalian bisa berolahraga di pagi atau sore hari. Dan jangan lupa makan makanan yang sehat ya!

Ketiga, kita juga harus mempersiapkan diri secara mental dengan memikirkan tujuan dan manfaat dari berpuasa. Berpuasa adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala. Serta untuk memperkuat rasa empati dan kepedulian kita terhadap sesama. Mari kita pikirkan bersama-sama, apa saja manfaat dari berpuasa?

Terakhir, kita juga bisa mempersiapkan diri untuk beramal sholeh di bulan Ramadhan. Kita bisa melakukan kegiatan sosial seperti berbagi makanan dengan orang yang membutuhkan. Membantu keluarga dan tetangga dalam persiapan sahur dan buka puasa. Kalian bisa melakukan kegiatan apa nih untuk memperbanyak amal sholeh?

Nah, itulah beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menghadapi bulan suci Ramadhan. Kita harus selalu bersemangat dan bersyukur atas nikmat Allah Ta'ala. Mari kita jalankan ibadah puasa dengan penuh semangat dan rasa syukur. Selamat menyambut bulan suci Ramadhan, anak-anak!

The Prehistoric Period (Zaman Prasejarah)

The Prehistoric period of human history, before written records were kept, is often divided into three main eras: the Stone Age, the Bronze ...