Zaman Perunggu

Zaman Perunggu adalah periode dalam sejarah manusia yang ditandai dengan penggunaan alat-alat yang terbuat dari campuran tembaga dan timah. Zaman ini diperkirakan terjadi sekitar 3000-1200 SM di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Eropa, Asia, dan Timur Tengah.

Selama Zaman Perunggu, teknologi manusia berkembang pesat, terutama dalam bidang pertanian dan pertukangan. Manusia mulai mengolah tanah dengan menggunakan alat-alat yang lebih efisien, seperti cangkul dan sabit. Mereka juga memanfaatkan hewan ternak untuk pertanian dan perburuan.

Selain itu, di Zaman Perunggu juga terjadi kemajuan dalam pembuatan senjata dan alat-alat perang. Senjata seperti pedang, tombak, dan perisai mulai dibuat dengan menggunakan teknologi yang lebih baik, sehingga lebih tajam dan lebih kuat. Hal ini memungkinkan manusia untuk mempertahankan diri dan berperang dengan lebih efektif.

Kemajuan teknologi juga terlihat dalam pembuatan alat-alat rumah tangga, seperti panci, alat pemotong, dan alat penggiling. Hal ini membantu manusia dalam memasak dan mengolah makanan dengan lebih efisien, sehingga memungkinkan mereka untuk mengembangkan makanan yang lebih bervariasi dan lebih sehat.

Di samping itu, Zaman Perunggu juga ditandai dengan adanya perdagangan internasional yang semakin meningkat. Manusia mulai berdagang dengan negara-negara lain, sehingga terjadi pertukaran budaya, bahasa, dan teknologi antar bangsa.

Meskipun Zaman Perunggu ditandai dengan kemajuan teknologi, namun pada akhirnya periode ini juga berakhir. Perkembangan baru dalam teknologi, seperti penggunaan besi, menggantikan penggunaan perunggu sebagai bahan pembuatan alat-alat dan senjata.

Dalam kesimpulannya, Zaman Perunggu adalah periode yang penting dalam sejarah manusia, karena selama periode ini manusia mengalami kemajuan teknologi yang signifikan dan memengaruhi cara hidup mereka hingga saat ini. 

40 Hadits Seputar Ramadhan (7)


32

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

Dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman bahwasanya dia pernah bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka 'Aisyah menjawab, “Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka'at. Beliau shalat empat raka'at, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat empat raka'at lagi, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat tiga raka'at.” 'Aisyah melanjutkan, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?” Beliau menjawab: "Wahai 'Aisyah, kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur”.
[HR al-Bukhari no. 1079, Muslim no. 1219]

33

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ لَيْلَةً مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَصَلَّى فَصَلَّوْا مَعَهُ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar di tengah malam lalu melaksanakan shalat di masjid, dan beberapa orang shalat mengikuti shalat beliau. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut. Maka pada malam berikutnya, berkumpul lah lebih banyak orang, lalu beliau shalat dan mereka mengikuti shalat beliau. Pada malam ketiga, orang-orang yang berkumpul di masjid bertambah banyak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar lalu melaksanakan shalat dan mereka mengikuti shalat beliau. Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jama'ah hingga beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah beliau selesai shalat Fajar, beliau menghadap kepada orang banyak lalu membaca syahadat kemudian bersabda: “Amma ba'du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku kuatir nanti menjadi diwajibkan atas kalian lalu kalian berat melaksanakannya.” Maka setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat, urusan (shalat tarawih) itu tetap seperti itu.
[HR al-Bukhari no. 1873, Ibnu Hibban no. 141]

34

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

Dari 'Abdurrahman bin 'Abdul Qariy bahwa dia berkata: Aku keluar bersama 'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pada malam Ramadhan menuju masjid. Ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara berpencar-pencar. Ada orang yang shalat sendirian dan ada orang yang shalat diikuti oleh beberapa orang (ma’mum). Maka 'Umar berkata, “Aku pikir seandainya aku mengumpulkan mereka ini dengan dengan dipimpin satu orang qari’ (imam) sungguh lebih baik”. Kemudian 'Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka (shalat berjama'ah) dipimpin oleh Ubay bin Ka'ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama'ah dengan dipimpin seorang imam. 'Umar berkata, “Sebaik-baik bid'ah adalah ini, dan yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam”. Yang ia maksud ialah shalat di akhir malam. Sedangkan orang-orang (pada umumnya) melakukan shalat di awal malam.
[HR al-Bukhari no. 1871, Malik no. 231] 

Tanggal Kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Beliau dilahirkan pada qurun atau masa terbaik dalam kehidupan ummat manusia.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ قَرْنًا فَقَرْنًا حَتَّى كُنْتُ مِنْ الْقَرْنِ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Saya diutus pada qurun terbaik dari Bani Adam, qurun demi qurun. Hingga saya berada pada qurun yang saya berada di dalamnya.”
[HR al-Bukhari no. 3293, Ahmad no. 8502]

Beliau dilahirkan pada Tahun Gajah, bulan Rabiul Awwal, hari Senin. Atau bulan April tahun 571 Masehi. Tanggalnya diperselisihkan; ada yang mengatakan tanggal 8, tanggal 12, dan yang lainnya. 

عَنْ مَخْرَمَةَ قَالَ وُلِدْتُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيلِ وَسَأَلَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ قُبَاثَ بْنَ أَشْيَمَ أَخَا بَنِي يَعْمَرَ بْنِ لَيْثٍ أَأَنْتَ أَكْبَرُ أَمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْبَرُ مِنِّي وَأَنَا أَقْدَمُ مِنْهُ فِي الْمِيلَادِ وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيلِ وَرَفَعَتْ بِي أُمِّي عَلَى الْمَوْضِعِ قَالَ وَرَأَيْتُ خَذْقَ الطَّيْرِ أَخْضَرَ مُحِيلًا

Dari Makhramah berkata, “Saya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada Tahun Gajah”. ‘Utsman bin ‘Affan bertanya kepada Qubats bin Asyyam, saudaranya Bani Ya’mar bin Laits, “Apakah engkau yang lebih besar (maksudnya: lebih tua usianya) ataukah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Maka dia menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih besar (maksudnya: lebih agung) daripadaku, sedangkan saya lebih dahulu dilahirkan daripada beliau. 1) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada Tahun Gajah, ketika ibuku sudah mengangkatku di atas tempatku.” Dia berkata, “Dan saya juga sempat melihat kotoran burung itu telah berubah menjadi hijau”. 
[HR at-Tirmidzi no. 3552]

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

Dari Abu Qatadah al-Anshary radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau bersabda, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu (pertama kali) kepadaku”.
[HR Muslim no. 1977, Ahmad no. 21501]

40 Hadits Seputar Ramadhan (6)


28

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan untuk berbuka”.
[HR Muslim no. 1838, al-Bukhari no. 1821]

29

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِنَّهُ بَرَكَةٌ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ تَمْرًا فَالْمَاءُ فَإِنَّهُ طَهُورٌ

Dari Salman bin 'Amir bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Jika seseorang kalian berbuka maka berbukalah dengan kurma karena kurma itu mengandung berkah. Jika dia tidak mendapatkan kurma, maka dengan air minum karena sesungguhnya air itu suci dan pembersih.”
[HR at-Tirmidzi no. 594, Ibnu Majah no. 1689]

30

عَنْ أُمِّ مَعْقِلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً

Dari Umu Ma'qil dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Umrah pada bulan Ramadhan setara (pahalanya) dengan haji”.
[HR at-Tirmidzi no. 861, Ibnu Majah no. 2982]

31

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah manusia yang paling pemurah (dermawan), dan beliau menjadi lebih pemurah lagi pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril datang menemuinya. Dan Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan, lalu ia mengajarkan beliau al-Quran. Maka sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lebih pemurah melakukan kebaikan daripada angin yang berhembus.”
[HR al-Bukhari no. 5, Muslim no. 4268] 

40 Hadits Seputar Ramadhan (5)


24

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ مَا لَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا فَقَالَ فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا قَالَ فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ قَالَ أَيْنَ السَّائِلُ فَقَالَ أَنَا قَالَ خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ 

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Ketika kami sedang duduk bermajelis bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiba-tiba datang seorang laki-laki lalu berkata, “Wahai Rasulullah, binasalah aku!”. Beliau bertanya: “Ada apa denganmu?” Orang itu menjawab, “Aku telah berhubungan dengan isteriku sedangkan aku sedang berpuasa”. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: “Apakah kamu bisa mendapatkan budak untuk kamu bebaskan?” Orang itu menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya: “Apakah kamu sanggup berpuasa selama dua bulan berturut-turut?” Orang itu menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya: “Apakah kamu bisa mendapatkan makanan untuk diberikan kepada enam puluh orang miskin?” Orang itu menjawab, “Tidak”. Sejenak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terdiam. Ketika kami masih dalam keadaan tadi, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diberikan satu keranjang besar berisi kurma. Beliau bertanya: “Mana orang yang bertanya tadi?” Orang itu menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Ambillah keranjang ini dan bersedekahlah dengan kurma ini”. Orang itu bertanya, “Apakah aku bersedekah kepada orang yang lebih faqir dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada keluarga yang tinggal diantara dua perbatasan (yang dia maksud adalah dua gurun pasir) yang lebih faqir daripada keluargaku.” Mendengar itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tertawa hingga tampak gigi seri beliau. Kemudian beliau bersabda: “Berilah makan keluargamu dengan kurma itu”.
[HR al-Bukhari no. 1800, Muslim no. 1870]

25

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ وَاحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ

Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berbekam ketika sedang berihram dan pernah pula berbekam ketika sedang berpuasa.
[HR al-Bukhari no. 1802]

Bekam (Canduk) ialah suatu terapi pengobatan yang dilakukan dengan mengeluarkan darah dari tubuh seseorang menggunakan peralatan tertentu.

26

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَرَأَى زِحَامًا وَرَجُلًا قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ فَقَالَ مَا هَذَا فَقَالُوا صَائِمٌ فَقَالَ لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ

Jabir bin 'Abdullah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah dalam suatu perjalanan melihat kerumunan orang, yang diantaranya ada seseorang yang sedang dipayungi. Beliau bertanya: “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Orang ini sedang berpuasa”. Maka Beliau bersabda: “Bukanlah suatu kebajikan berpuasa dalam safar (perjalanan jauh)”.
[HR al-Bukhari no. 1810, Muslim no. 1879]

27

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَعِبْ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Kami pernah bepergian (safar) bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka (tidak berpuasa) dan orang yang berbuka juga tidak mencela orang yang berpuasa”.
[HR al-Bukhari no. 1811, Muslim no. 1884]

10 Ilusi Optik Pilihan (1)

1. a dancing gingerbread house (rumah roti jahe yang menari) 

2. one of the best moving illusions we've seen (salah satu ilusi bergerak terbaik yang pernah kita lihat)

3. hovering crosswalk (rambu penyeberangan yang melayang)

4. the two pears are the same color (kedua buah pir ini berwarna sama)

5. A and B are the same color (area A dan B berwarna sama)

6. tampak berpendar

7. tampak bergerak

8. tampak berputar

9. tiga tabung berputar

10. buih di atas gelombang




40 Hadits Seputar Ramadhan (4)


19

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَكَلَ نَاسِيًا وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa makan karena lupa bahwa dia sedang berpuasa, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya. Karena sesungguhnya Allah yang telah memberinya makan dan memberinya minum.”
[HR al-Bukhari no. 6176, Muslim no. 1952]

20

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mencium dan mencumbu (isteri-isteri beliau) padahal beliau sedang berpuasa. Dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan nafsunya dibanding kalian.”
[HR al-Bukhari no. 1792, at-Tirmidzi no. 661]

21

عَنْ لَقِيطِ بْنِ صَبِرَةِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي عَنْ الْوُضُوءِ قَالَ أَسْبِغْ الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

Dari Laqhith bin Shabirah berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang wudhu?” Beliau menjawab: “Sempurnakanlah wudhu, basuhlah sela-sela jarimu dan lakukanlah istinsyaq (membersihkan rongga hidung) dalam-dalam, kecuali jika kamu sedang berpuasa.”
[HR at-Tirmidzi no. 718, Abu Dawud no. 123]

Istinsyaq adalah membersihkan rongga hidung dengan cara menghirup air ke dalam hidung kemudian menyemburkannya kembali.

22

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ أَحَدٌ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Apabila hari seseorang kalian berpuasa, maka janganlah ia berbuat rafats (berbuat atau berkata yang tidak senonoh) dan jangan berbantah-bantahan. Maka jika ada seseorang mencelanya atau mengajaknya bertengkar, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku berpuasa”.
[HR Ahmad no. 24875, al-Bukhari no. 1771]

23

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ بِأَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya (tidak menerima puasanya –pent.)
[HR at-Tirmidzi no. 641, al-Bukhari no. 1770]

The Prehistoric Period (Zaman Prasejarah)

The Prehistoric period of human history, before written records were kept, is often divided into three main eras: the Stone Age, the Bronze ...