The Prehistoric Period (Zaman Prasejarah)


The Prehistoric period of human history, before written records were kept, is often divided into three main eras: the Stone Age, the Bronze Age, and the Iron Age. These eras represent major shifts in human technology, society, and culture.
Periode prasejarah dalam sejarah manusia, sebelum catatan tertulis dibuat, sering dibagi menjadi tiga era utama: Zaman Batu, Zaman Perunggu, dan Zaman Besi. Era- era ini merepresentasikan pergeseran besar dalam teknologi, masyarakat, dan budaya manusia.

The Stone Age is the earliest period of human history, and it is divided into three phases: the Paleolithic, Mesolithic, and Neolithic. During this time, humans were hunters and gatherers, using stone tools to survive. They also developed language and complex social structures. In the Neolithic phase, humans began to domesticate plants and animals, leading to the development of agriculture and the establishment of permanent settlements.
Zaman Batu adalah periode sejarah manusia paling awal, dan dibagi menjadi tiga fase: Paleolitikum, Mesolitikum, dan Neolitikum. Selama periode ini, manusia hidup sebagai pemburu-pengumpul, menggunakan alat-alat batu untuk bertahan hidup. Mereka juga mengembangkan bahasa dan struktur sosial yang kompleks. Pada fase Neolitikum, manusia mulai membudidayakan tanaman dan hewan, yang memimpin pada perkembangan pertanian dan pembentukan permukiman permanen.

The Bronze Age followed the Stone Age, and it is characterized by the widespread use of bronze tools and weapons. This period began around 3000 BCE in some parts of the world and continued until the introduction of iron around 1200 BCE. Bronze was an alloy made from copper and tin, which was stronger than stone but less brittle than iron. The Bronze Age saw the rise of early civilizations such as Mesopotamia and Egypt, as well as the development of trade networks and the use of writing.
Zaman Perunggu mengikuti Zaman Batu, dan ditandai dengan penggunaan alat dan senjata perunggu yang luas. Periode ini dimulai sekitar 3000 SM di beberapa bagian dunia dan berlanjut hingga pengenalan besi sekitar 1200 SM. Perunggu adalah campuran dari tembaga dan timah, yang lebih kuat daripada batu tetapi kurang rapuh daripada besi. Zaman Perunggu menyaksikan munculnya peradaban awal seperti Mesopotamia dan Mesir, serta perkembangan jaringan perdagangan dan penggunaan tulisan.

The Iron Age followed the Bronze Age, and it is characterized by the widespread use of iron tools and weapons. This period began around 1200 BCE in some parts of the world and continued until the introduction of steel around 500 BCE. Iron was stronger and more durable than bronze, which made it a more efficient material for tools and weapons. The Iron Age saw the rise of more complex societies, including empires such as the Roman Empire, the Han Dynasty in China, and the Mauryan Empire in India.
Zaman Besi mengikuti Zaman Perunggu, dan ditandai dengan penggunaan alat dan senjata besi yang luas. Periode ini dimulai sekitar 1200 SM di beberapa bagian dunia dan berlanjut hingga pengenalan baja sekitar 500 SM. Besi lebih kuat dan tahan lama daripada perunggu, yang membuatnya lebih efisien sebagai bahan untuk alat dan senjata. Zaman Besi menyaksikan munculnya masyarakat yang lebih kompleks, termasuk kekaisaran seperti Kekaisaran Romawi, Dinasti Han di Cina, dan Kekaisaran Maurya di India.

In conclusion, the division of Prehistory into the Stone Age, the Bronze Age, and the Iron Age provides a useful framework for understanding the development of human technology and society. These eras represent major shifts in human history, from the earliest hunter-gatherer societies to the rise of early civilizations and empires. By studying the characteristics and contributions of each era, we can gain a better understanding of how human societies have evolved and how they continue to change.
Secara keseluruhan, pembagian Prasejarah menjadi Zaman Batu, Zaman Perunggu, dan Zaman Besi menyediakan kerangka kerja yang berguna untuk memahami perkembangan teknologi dan masyarakat manusia. Era- era ini merepresentasikan pergeseran besar dalam sejarah manusia, dari masyarakat pemburu-pengumpul awal hingga munculnya peradaban dan kekaisaran awal. Dengan mempelajari karakteristik dan kontribusi masing-masing era, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana masyarakat manusia telah berevolusi dan bagaimana mereka terus berubah. 

The Difference Between History and Prehistory (Perbedaan antara Era Sejarah dan Prasejarah)


The main difference between history and prehistory is the existence of written records. History refers to the period of human existence for which we have written documentation, while prehistory refers to the period before the invention of writing.
Perbedaan utama antara sejarah dan prasejarah adalah adanya catatan tertulis. Sejarah mengacu pada periode keberadaan manusia yang memiliki dokumentasi tertulis, sedangkan prasejarah mengacu pada periode sebelum penemuan tulisan.

In prehistory, our knowledge of human societies comes from archaeological evidence and oral traditions. Archaeological evidence includes artifacts, such as tools and pottery, as well as human remains and structures such as cave paintings and megaliths. Oral traditions refer to stories and legends passed down through generations that offer insight into the beliefs, values, and customs of prehistoric societies.
Pada prasejarah, pengetahuan kita tentang masyarakat manusia didapatkan dari bukti arkeologi dan tradisi lisan. Bukti arkeologi termasuk artefak, seperti alat-alat dan tembikar, serta sisa-sisa manusia dan struktur seperti lukisan gua dan megalit. Tradisi lisan merujuk pada cerita dan legenda yang disampaikan dari generasi ke generasi yang memberikan wawasan tentang kepercayaan, nilai, dan adat istiadat masyarakat prasejarah.

History, on the other hand, begins with the emergence of written records in various parts of the world. Writing allowed people to record and preserve information, such as important events, religious beliefs, and cultural practices. Written records can be found in various forms, such as diaries, letters, government documents, and historical accounts.
Sejarah, di sisi lain, dimulai dengan munculnya catatan tertulis di berbagai bagian dunia. Penulisan memungkinkan orang untuk merekam dan mempertahankan informasi, seperti peristiwa penting, keyakinan agama, dan praktik budaya. Catatan tertulis dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti buku harian, surat, dokumen pemerintah, dan catatan sejarah.

Another significant difference between history and prehistory is the level of technological advancement. Prehistoric societies were limited by the tools and materials available to them, and they often had to adapt to changing environmental conditions. In contrast, historical societies had the benefit of technological advancements that allowed them to develop more complex societies, such as agriculture, trade, and industry.
Perbedaan signifikan lainnya antara sejarah dan prasejarah adalah tingkat kemajuan teknologi. Masyarakat prasejarah terbatas oleh alat dan bahan yang tersedia untuk mereka, dan mereka sering harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berubah. Sebaliknya, masyarakat sejarah memiliki keuntungan dari kemajuan teknologi yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan masyarakat yang lebih kompleks, seperti pertanian, perdagangan, dan industri.

Overall, the key difference between history and prehistory is the availability of written records. While prehistoric societies were limited by their lack of writing, they nonetheless developed complex cultures and societies that shaped human history. The study of prehistory is important in understanding the evolution of human societies and provides valuable insight into the origins of our modern world.
Secara keseluruhan, perbedaan utama antara sejarah dan prasejarah adalah ketersediaan catatan tertulis. Meskipun masyarakat prasejarah terbatas oleh kurangnya penulisan, mereka tetap mengembangkan budaya dan masyarakat yang kompleks yang membentuk sejarah manusia. Studi prasejarah penting dalam memahami evolusi masyarakat manusia dan memberikan wawasan yang berharga tentang asal-usul dunia modern kita.

World/Human History (Sejarah Dunia/Manusia)


The division of human history into distinct periods is a useful way to understand and study the past. One way to divide human history is by using a scheme that includes Prehistory, Holocene, Ancient, Postclassical, Modern, and Future.
Pembagian sejarah manusia menjadi periode yang berbeda adalah cara yang berguna untuk memahami dan mempelajari masa lalu. Salah satu cara untuk membagi sejarah manusia adalah dengan menggunakan skema yang mencakup Prasejarah, Holosen, Kuno, Post-klasik, Modern, dan Masa Depan.

Prehistory is the period of time before written records existed. It is typically divided into three main eras: the Stone Age, the Bronze Age, and the Iron Age. During this period, humans were hunter-gatherers and lived in small groups. They developed language, tools, and cultural practices, and eventually began to domesticate plants and animals.
Prasejarah adalah periode sebelum catatan tertulis ada. Biasanya dibagi menjadi tiga era utama: Zaman Batu, Zaman Perunggu, dan Zaman Besi. Selama periode ini, manusia adalah pemburu-pengumpul dan hidup dalam kelompok kecil. Mereka mengembangkan bahasa, alat, dan praktik budaya, dan akhirnya mulai membudidayakan tanaman dan hewan.

The Holocene epoch began approximately 12,000 years ago with the end of the last Ice Age. This period saw the rise of agriculture and the development of human civilizations. The Holocene is divided into three main eras: the Early Holocene, the Middle Holocene, and the Late Holocene. During this period, humans built cities, developed writing systems, and created complex social structures.
Epoch Holosen dimulai sekitar 12.000 tahun yang lalu dengan berakhirnya Zaman Es terakhir. Periode ini menyaksikan munculnya pertanian dan perkembangan peradaban manusia. Holosen dibagi menjadi tiga era utama: Awal Holosen, Tengah Holosen, dan Akhir Holosen. Selama periode ini, manusia membangun kota-kota, mengembangkan sistem tulisan, dan menciptakan struktur sosial yang kompleks.

The Ancient period refers to the time from the beginning of recorded history to the fall of the Western Roman Empire in 476 CE. This period saw the rise and fall of numerous empires, including those of the Greeks, Romans, and Egyptians. It was marked by significant cultural achievements in literature, art, philosophy, and science.
Periode Kuno mengacu pada waktu dari awal sejarah tertulis hingga runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada tahun 476 M. Periode ini menyaksikan kemunculan dan kejatuhan banyak kekaisaran, termasuk Yunani, Romawi, dan Mesir. Ini ditandai dengan pencapaian budaya yang signifikan dalam bidang sastra, seni, filsafat, dan sains.

The Postclassical period refers to the time between the fall of the Western Roman Empire and the beginning of the modern era in the 15th century. This period saw the rise of Islam, the spread of Christianity, and the growth of powerful empires in Asia, Africa, and the Americas.
Periode Post-klasik mengacu pada waktu antara runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat dan awal era modern pada abad ke-15. Periode ini menyaksikan munculnya Islam, penyebaran Kristen, dan pertumbuhan kekaisaran yang kuat di Asia, Afrika, dan Amerika.

The Modern period began with the Renaissance in the 15th century and continues to the present day. This period saw significant advancements in science, technology, and industry. It was marked by the rise of colonialism, the Industrial Revolution, and two World Wars.
Periode Modern dimulai dengan Renaisans pada abad ke-15 dan berlanjut hingga saat ini. Periode ini menyaksikan kemajuan yang signifikan dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri. Ini ditandai dengan munculnya kolonialisme, Revolusi Industri, dan dua Perang Dunia.

The Future period represents the time yet to come. It is shaped by current events and trends, including globalization, climate change, and technological advancements. The Future period is characterized by uncertainty, but also by the potential for new discoveries and innovations that could shape human history in ways we cannot yet imagine.
Periode Masa Depan mewakili masa yang belum datang. Ini dibentuk oleh peristiwa dan tren saat ini, termasuk globalisasi, perubahan iklim, dan kemajuan teknologi. Masa Depan ditandai dengan ketidakpastian, tetapi juga dengan potensi penemuan dan inovasi baru yang dapat membentuk sejarah manusia dengan cara yang belum kita bayangkan.

In conclusion, dividing human history into distinct periods provides a framework for understanding the past and can help us make sense of the present. By examining each period's unique characteristics and contributions, we can better understand how human societies have evolved and how they continue to change.
Sebagai kesimpulan, membagi sejarah manusia menjadi periode yang berbeda menyediakan kerangka kerja untuk memahami masa lalu dan dapat membantu kita memahami saat ini. Dengan memeriksa karakteristik dan kontribusi unik setiap periode, kita dapat lebih memahami bagaimana masyarakat manusia telah berevolusi dan bagaimana mereka terus berubah. 

Nama-nama Nabi dan Ibu Susu Beliau

Pemberian nama “Muhammad” adalah Taufiq dari Allah ‘azza wajalla.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّدٌ

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidakkah kalian takjub (kagum) bagaimana Allah menghindarkan aku dari caci-maki Quraisy dan sumpah-serapah mereka? Mereka mencaci maki mudzammam (orang yang banyak dicela) dan mereka melaknat mudzammam, padahal aku adalah muhammad (orang yang banyak dipuji).”
[HR al-Bukhari no. 3269, an-Nasai no. 3384, Ahmad no. 7029]

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِي أَسْمَاءً أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِيَ الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي وَأَنَا الْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدِي نَبِيٌّ

Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku memiliki beberapa nama. Aku adalah Muhammad, Ahmad, al-Mahi (Penghapus) yang denganku Allah menghapus kekufuran, al-Hasyir (Penghimpun) yang manusia dikumpulkan di atas kakiku, al-‘Aqib (Pemungkas) yang tiada lagi Nabi setelahku.”
[HR at-Tirmidzi no. 2766, al-Bukhari no. 3268, Muslim no. 4342, ad-Darimi no. 2656, Ahmad no. 16134, Malik no. 1595]

Ibu Susu Beliau

عَنْ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ انْكِحْ أُخْتِي بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ فَقَالَ أَوَتُحِبِّينَ ذَلِكِ فَقُلْتُ نَعَمْ لَسْتُ لَكَ بِمُخْلِيَةٍ وَأَحَبُّ مَنْ شَارَكَنِي فِي خَيْرٍ أُخْتِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ ذَلِكِ لَا يَحِلُّ لِي قُلْتُ فَإِنَّا نُحَدَّثُ أَنَّكَ تُرِيدُ أَنْ تَنْكِحَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ بِنْتَ أُمِّ سَلَمَةَ قُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ لَوْ أَنَّهَا لَمْ تَكُنْ رَبِيبَتِي فِي حَجْرِي مَا حَلَّتْ لِي إِنَّهَا لَابْنَةُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ أَرْضَعَتْنِي وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَةُ فَلَا تَعْرِضْنَ عَلَيَّ بَنَاتِكُنَّ وَلَا أَخَوَاتِكُنَّ قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

Dari Ummu Habibah binti Abu Sufyan bahwa ia pernah berkata, “Wahai Rasulullah, nikahilah saudariku, putri Abu Sufyan”. Maka beliau balik bertanya, “Apakah engkau suka hal itu?” Saya menjawab, “Ya. Namun saya tidak mau ditinggalkan oleh engkau. Hanya saja aku suka bila saudariku ikut serta denganku dalam kebaikan.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Sesungguhnya hal itu tidaklah halal bagiku.” Saya berkata lagi, “Diberitakan bahwa engkau ingin menikahi putri Abu Salamah”. Beliau bertanya, “Putri Ummu Salamah?” Saya menjawab, “Ya”. Maka beliau bersabda, “Meskipun ia bukan anak tiriku, ia tidaklah halal bagiku. Sesungguhnya ia adalah anak saudaraku sesusuan. Tsuwaibah pernah menyusuiku dan juga Abu Salamah. Karena itu, janganlah kalian menawarkan anak-anak dan saudari-saudari kalian padaku!” ‘Urwah berkata, “Tsuwaibah adalah maula (mantan budak yang dimerdekakan oleh) Abu Lahab. Waktu itu, Abu Lahab memerdekakannya, lalu Tsuwaibah pun menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika Abu Lahab mati, ia pun diperlihatkan kepada sebagian keluarganya di dalam mimpi dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Sang kerabat berkata padanya, “Apa yang engkau dapatkan?” Abu Lahab berkata, “Saya belum pernah mendapati sesuatu nikmat pun setelah kalian. Hanya saja saya diberi minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah”.
[HR al-Bukhari no. 4711, Muslim no. 2626, Abu Dawud no. 1760, an-Nasai no. 3232, Ahmad no. 25414]

40 Hadits Seputar Ramadhan (9)


40

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

Dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri satu sha' dari kurma atau satu sha' dari gandum (yang wajib dikeluarkan atas) setiap hamba sahaya (budak) maupun yang merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar dari kaum muslimin. Dan beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang berangkat untuk shalat hari raya (Idul Fitri).”
[HR al-Bukhari no. 1407, Abu Dawud no. 1373]

41

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ الْأَضْحَى

Dari Abu Sa'id dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwasanya beliau melarang puasa pada hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adlha.
[HR al-Bukhari no. 1855, Ibnu Majah no. 1711]

42

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak berangkat shalat Idul Fitri sebelum makan beberapa butir kurma, dan beliau makan dengan jumlah ganjil”.
[HR al-Bukhari no. 900]

43

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggal dunia dan memiliki hutang puasa maka walinya yang berpuasa untuknya”.
[HR al-Bukhari no. 1816, Muslim no. 1935]

44

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا فَقَالَ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, “Sesungguhnya ibuku telah meninggal, dan ia memiliki hutang puasa satu bulan. Apakah saya harus menunaikannya?” Beliau menjawab: “Seandainya ibumu memiliki hutang uang, apakah kamu harus membayarkannya?” Laki-laki itu menjawab, “Ya”. Beliau bersabda: “Maka hutang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi”.
[HR Muslim no. 1937, al-Bukhari no. 1817]

45

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, adalah seperti berpuasa sepanjang masa”.
[HR Muslim no. 1984, at-Tirmidzi no. 690]

46

عَنْ سَهْلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

Dari Sahal radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Dalam surga ada sebuah pintu yang disebut ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk lewat pintu itu pada Hari Kiamat. Tidak seorang pun yang masuk lewat pintu itu selain mereka. Dikatakan, “Mana orang-orang yang berpuasa?” Maka berdirilah mereka, tidak seorang pun yang bisa masuk lewat pintu itu selain mereka. Maka bila mereka telah masuk, ditutuplah pintu itu sehingga tidak seorangpun yang bisa masuk lewat pintu itu.”
[HR al-Bukhari no. 1763, Muslim no. 1947]

40 Hadits Seputar Ramadhan (8)


35

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar (mengisi dengan ibadah) karena iman dan ihtisab (mencari pahala dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.
[HR al-Bukhari no. 1768, Muslim no. 1268]

36

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beri'tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga Allah mewafatkannya. Kemudian isteri-isteri beliau beri'tikaf setelah kepergian beliau.
[HR al-Bukhari no. 1886, Muslim no. 2006]

37

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي رَمَضَانَ الْعَشْرَ الَّتِي فِي وَسَطِ الشَّهْرِ فَإِذَا كَانَ حِينَ يُمْسِي مِنْ عِشْرِينَ لَيْلَةً تَمْضِي وَيَسْتَقْبِلُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَجَعَ إِلَى مَسْكَنِهِ وَرَجَعَ مَنْ كَانَ يُجَاوِرُ مَعَهُ وَأَنَّهُ أَقَامَ فِي شَهْرٍ جَاوَرَ فِيهِ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ يَرْجِعُ فِيهَا فَخَطَبَ النَّاسَ فَأَمَرَهُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ قَالَ كُنْتُ أُجَاوِرُ هَذِهِ الْعَشْرَ ثُمَّ قَدْ بَدَا لِي أَنْ أُجَاوِرَ هَذِهِ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَثْبُتْ فِي مُعْتَكَفِهِ وَقَدْ أُرِيتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا فَابْتَغُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَابْتَغُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ فَاسْتَهَلَّتْ السَّمَاءُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ فَأَمْطَرَتْ فَوَكَفَ الْمَسْجِدُ فِي مُصَلَّى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ فَبَصُرَتْ عَيْنِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَظَرْتُ إِلَيْهِ انْصَرَفَ مِنْ الصُّبْحِ وَوَجْهُهُ مُمْتَلِئٌ طِينًا وَمَاءً

Dari Abu Sa'id al-Khudriy radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan i'tikaf di bulan Ramadhan pada sepuluh malam pertengahan bulan. Kemudian ketika melewati malam ke dua puluh menjelang malam kedua puluh satu, beliau datang kembali ke tempat khusus i'tikaf beliau, dan kembali pula orang-orang yang tadi beri'tikaf bersama beliau. Dan pada malam beliau kembali beri'tikaf di bulan tersebut, beliau berdiri dan menyampaikan khuthbah di hadapan orang-orang, lalu memerintahkan mereka mengikuti apa yang Allah kehendaki. Kemudian beliau bersabda: “Aku sudah melaksanakan i'tikaf pada sepuluh malam sebelumnya dari bulan ini kemudian dinampakkan kepadaku agar beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir. Maka siapa yang telah beri'tikaf bersamaku tetaplah pada tempatnya beri'tikaf. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku tentang malam Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti. Maka carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan carilah pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat diriku sujud diatas air dan tanah.” Kemudian langit tampak mendung pada malam itu lalu turunlah hujan hingga masjid bocor dan mengenai tempat shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada malam kedua puluh satu. Maka mataku memandang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan aku melihat beliau setelah Shubuh, sedang wajah beliau penuh dengan tanah dan air.”
[HR al-Bukhari no. 1879, Muslim no. 1993]

38

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata, “Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila memasuki sepuluh (yang akhir dari Ramadhan), beliau mengencangkan sarung beliau, menghidupkan malamnya (dengan ibadah) dan membangunkan keluarganya (untuk shalat malam”.
[HR al-Bukhari no. 1884, Ahmad no. 23241]

39

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِلْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Carilah ia pada sepuluh terakhir (Ramadhan), yakni Lailatul Qadr. Maka jika salah seorang dari kalian tidak sempat atau tidak mampu, maka jangan sampai terlewatkan pada tujuh malam terakhir.”
[HR Muslim no. 1989, Ahmad no. 1056]

10 Ilusi Optik Pilihan (2)

1. Tampak seperti berputar dan seperti tali yang bersambung

2. Tampak seperti ada tonjolan bulat yang keluar dari tengah gambar, padahal semua polanya adalah kotak-kotak dengan garis vertikal maupun horisontal yang tegak lurus 90 derajat.

3. Percayakah anda bahwa kedua bulatan jingga itu sama besar? Silakan diukur dengan alat!

4. Bulatan di tengah tampak seperti berkilauan dan bergoyang

5. Bagian yang anda kira berwarna biru dan hijau itu sebenarnya hanyalah satu warna yang sama.

6. Buih yang bergerak-gerak?

7. Elusive Arch (Lengkungan Elusif)


Shading is a powerful way to represent the relief of 3-dimensional objects in pictures. However, the way our vision interprets shaded images depends on the shape of their contours. Here two different contours of the same shading pattern convey two different reliefs, joined into an impossible object.
Shading merupakan cara yang ampuh untuk merepresentasikan relief objek 3 dimensi dalam gambar. Namun, cara penglihatan kita menginterpretasikan gambar yang diarsir tergantung pada bentuk konturnya. Di sini dua kontur berbeda dari pola arsiran yang sama menyampaikan dua relief berbeda, digabungkan menjadi objek yang mustahil.

8. Healing Grid (Kotak yang Memulih)

The image is regular at the center, but the grid pattern is less regular at the peripheral parts of the images (both on the left and right edges). As you stare at the center of the grid for say 20 seconds, the regularity of the grid pattern at the center spreads into the irregular parts in the periphery. This illusion seems to indicate the preference of the visual brain to see regular patterns.
Gambar teratur di tengah, tetapi pola grid kurang teratur di bagian tepi gambar (baik di tepi kiri dan kanan). Saat Anda menatap pusat kisi selama 20 detik, keteraturan pola kisi di tengah menyebar ke bagian tidak beraturan di pinggiran. Ilusi ini tampaknya menunjukkan preferensi otak visual untuk melihat pola yang teratur.

9. Coffer Illusion (Ilusi Peti)

First time viewers of this display invariably do not see the 16 circles segmented from the background. Rather, they see a series of rectangles that they frequently describe as “door panels”. The illusion pits segmentation cues against what appears to be a very strong prior to interpret the image as a series of 3-D structures “coffers” with closed boundaries. (A coffer is a decorative sunken panel.) It appears that the prior involves both closure and shape-from shading assumptions. The Coffer Illusion is a variation on Gianni Sarcone’s “Op Art illusion”.
Pertama kali orang yang melihat dari tampilan ini selalu tidak melihat 16 lingkaran yang tersegmentasi dari latar belakang. Sebaliknya, mereka melihat serangkaian persegi panjang yang sering mereka gambarkan sebagai "panel pintu". Segmentasi lubang ilusi memberi isyarat terhadap apa yang tampaknya sangat kuat sebelum menafsirkan gambar sebagai serangkaian "pundi-pundi" struktur 3-D dengan batas tertutup. (Peti adalah panel cekung dekoratif.) Tampaknya sebelumnya melibatkan asumsi penutupan dan bentuk-dari naungan. The Coffer Illusion adalah variasi dari "ilusi Seni Op" Gianni Sarcone.

10. Clones and Donors Have Opposite Inclinations (in Vision). Klon dan Donor Memiliki Kecenderungan Berlawanan (dalam Penglihatan)

Fig. 1 and Fig. 2 show the same inducing pattern. However, if the blue lines in fig 1 are seen as donors, we can easily appreciate that when they give birth to two clones as in fig 2, these clones grow apart and they show a diametrically opposed inclination: convex lines become concave and concave lines becomes convex. A clone for each donor is sufficient to produce the effect.
Gambar 1 dan Gambar 2 menunjukkan pola induksi yang sama. Namun, jika garis biru pada gambar 1 dilihat sebagai donor, kita dapat dengan mudah menghargai bahwa ketika mereka melahirkan dua klon seperti pada gambar 2, klon ini tumbuh terpisah dan mereka menunjukkan kecenderungan berlawanan secara diametral: garis cembung menjadi garis cekung dan cekung. menjadi cembung. Klon untuk setiap donor cukup untuk menghasilkan efek.



Zaman Perunggu

Zaman Perunggu adalah periode dalam sejarah manusia yang ditandai dengan penggunaan alat-alat yang terbuat dari campuran tembaga dan timah. Zaman ini diperkirakan terjadi sekitar 3000-1200 SM di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Eropa, Asia, dan Timur Tengah.

Selama Zaman Perunggu, teknologi manusia berkembang pesat, terutama dalam bidang pertanian dan pertukangan. Manusia mulai mengolah tanah dengan menggunakan alat-alat yang lebih efisien, seperti cangkul dan sabit. Mereka juga memanfaatkan hewan ternak untuk pertanian dan perburuan.

Selain itu, di Zaman Perunggu juga terjadi kemajuan dalam pembuatan senjata dan alat-alat perang. Senjata seperti pedang, tombak, dan perisai mulai dibuat dengan menggunakan teknologi yang lebih baik, sehingga lebih tajam dan lebih kuat. Hal ini memungkinkan manusia untuk mempertahankan diri dan berperang dengan lebih efektif.

Kemajuan teknologi juga terlihat dalam pembuatan alat-alat rumah tangga, seperti panci, alat pemotong, dan alat penggiling. Hal ini membantu manusia dalam memasak dan mengolah makanan dengan lebih efisien, sehingga memungkinkan mereka untuk mengembangkan makanan yang lebih bervariasi dan lebih sehat.

Di samping itu, Zaman Perunggu juga ditandai dengan adanya perdagangan internasional yang semakin meningkat. Manusia mulai berdagang dengan negara-negara lain, sehingga terjadi pertukaran budaya, bahasa, dan teknologi antar bangsa.

Meskipun Zaman Perunggu ditandai dengan kemajuan teknologi, namun pada akhirnya periode ini juga berakhir. Perkembangan baru dalam teknologi, seperti penggunaan besi, menggantikan penggunaan perunggu sebagai bahan pembuatan alat-alat dan senjata.

Dalam kesimpulannya, Zaman Perunggu adalah periode yang penting dalam sejarah manusia, karena selama periode ini manusia mengalami kemajuan teknologi yang signifikan dan memengaruhi cara hidup mereka hingga saat ini. 

40 Hadits Seputar Ramadhan (7)


32

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

Dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman bahwasanya dia pernah bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha tentang cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di bulan Ramadhan. Maka 'Aisyah menjawab, “Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya lebih dari sebelas raka'at. Beliau shalat empat raka'at, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat empat raka'at lagi, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat tiga raka'at.” 'Aisyah melanjutkan, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum melaksanakan witir?” Beliau menjawab: "Wahai 'Aisyah, kedua mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur”.
[HR al-Bukhari no. 1079, Muslim no. 1219]

33

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ لَيْلَةً مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَصَلَّى فَصَلَّوْا مَعَهُ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar di tengah malam lalu melaksanakan shalat di masjid, dan beberapa orang shalat mengikuti shalat beliau. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut. Maka pada malam berikutnya, berkumpul lah lebih banyak orang, lalu beliau shalat dan mereka mengikuti shalat beliau. Pada malam ketiga, orang-orang yang berkumpul di masjid bertambah banyak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar lalu melaksanakan shalat dan mereka mengikuti shalat beliau. Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jama'ah hingga beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah beliau selesai shalat Fajar, beliau menghadap kepada orang banyak lalu membaca syahadat kemudian bersabda: “Amma ba'du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku kuatir nanti menjadi diwajibkan atas kalian lalu kalian berat melaksanakannya.” Maka setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat, urusan (shalat tarawih) itu tetap seperti itu.
[HR al-Bukhari no. 1873, Ibnu Hibban no. 141]

34

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

Dari 'Abdurrahman bin 'Abdul Qariy bahwa dia berkata: Aku keluar bersama 'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pada malam Ramadhan menuju masjid. Ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara berpencar-pencar. Ada orang yang shalat sendirian dan ada orang yang shalat diikuti oleh beberapa orang (ma’mum). Maka 'Umar berkata, “Aku pikir seandainya aku mengumpulkan mereka ini dengan dengan dipimpin satu orang qari’ (imam) sungguh lebih baik”. Kemudian 'Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka (shalat berjama'ah) dipimpin oleh Ubay bin Ka'ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama'ah dengan dipimpin seorang imam. 'Umar berkata, “Sebaik-baik bid'ah adalah ini, dan yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam”. Yang ia maksud ialah shalat di akhir malam. Sedangkan orang-orang (pada umumnya) melakukan shalat di awal malam.
[HR al-Bukhari no. 1871, Malik no. 231] 

Tanggal Kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Beliau dilahirkan pada qurun atau masa terbaik dalam kehidupan ummat manusia.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ قَرْنًا فَقَرْنًا حَتَّى كُنْتُ مِنْ الْقَرْنِ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Saya diutus pada qurun terbaik dari Bani Adam, qurun demi qurun. Hingga saya berada pada qurun yang saya berada di dalamnya.”
[HR al-Bukhari no. 3293, Ahmad no. 8502]

Beliau dilahirkan pada Tahun Gajah, bulan Rabiul Awwal, hari Senin. Atau bulan April tahun 571 Masehi. Tanggalnya diperselisihkan; ada yang mengatakan tanggal 8, tanggal 12, dan yang lainnya. 

عَنْ مَخْرَمَةَ قَالَ وُلِدْتُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيلِ وَسَأَلَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ قُبَاثَ بْنَ أَشْيَمَ أَخَا بَنِي يَعْمَرَ بْنِ لَيْثٍ أَأَنْتَ أَكْبَرُ أَمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْبَرُ مِنِّي وَأَنَا أَقْدَمُ مِنْهُ فِي الْمِيلَادِ وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفِيلِ وَرَفَعَتْ بِي أُمِّي عَلَى الْمَوْضِعِ قَالَ وَرَأَيْتُ خَذْقَ الطَّيْرِ أَخْضَرَ مُحِيلًا

Dari Makhramah berkata, “Saya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada Tahun Gajah”. ‘Utsman bin ‘Affan bertanya kepada Qubats bin Asyyam, saudaranya Bani Ya’mar bin Laits, “Apakah engkau yang lebih besar (maksudnya: lebih tua usianya) ataukah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Maka dia menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih besar (maksudnya: lebih agung) daripadaku, sedangkan saya lebih dahulu dilahirkan daripada beliau. 1) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada Tahun Gajah, ketika ibuku sudah mengangkatku di atas tempatku.” Dia berkata, “Dan saya juga sempat melihat kotoran burung itu telah berubah menjadi hijau”. 
[HR at-Tirmidzi no. 3552]

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

Dari Abu Qatadah al-Anshary radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau bersabda, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu (pertama kali) kepadaku”.
[HR Muslim no. 1977, Ahmad no. 21501]

40 Hadits Seputar Ramadhan (6)


28

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan untuk berbuka”.
[HR Muslim no. 1838, al-Bukhari no. 1821]

29

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِنَّهُ بَرَكَةٌ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ تَمْرًا فَالْمَاءُ فَإِنَّهُ طَهُورٌ

Dari Salman bin 'Amir bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Jika seseorang kalian berbuka maka berbukalah dengan kurma karena kurma itu mengandung berkah. Jika dia tidak mendapatkan kurma, maka dengan air minum karena sesungguhnya air itu suci dan pembersih.”
[HR at-Tirmidzi no. 594, Ibnu Majah no. 1689]

30

عَنْ أُمِّ مَعْقِلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً

Dari Umu Ma'qil dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Umrah pada bulan Ramadhan setara (pahalanya) dengan haji”.
[HR at-Tirmidzi no. 861, Ibnu Majah no. 2982]

31

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah manusia yang paling pemurah (dermawan), dan beliau menjadi lebih pemurah lagi pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril datang menemuinya. Dan Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan, lalu ia mengajarkan beliau al-Quran. Maka sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lebih pemurah melakukan kebaikan daripada angin yang berhembus.”
[HR al-Bukhari no. 5, Muslim no. 4268] 

40 Hadits Seputar Ramadhan (5)


24

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ مَا لَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا فَقَالَ فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا قَالَ فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ قَالَ أَيْنَ السَّائِلُ فَقَالَ أَنَا قَالَ خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ 

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Ketika kami sedang duduk bermajelis bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiba-tiba datang seorang laki-laki lalu berkata, “Wahai Rasulullah, binasalah aku!”. Beliau bertanya: “Ada apa denganmu?” Orang itu menjawab, “Aku telah berhubungan dengan isteriku sedangkan aku sedang berpuasa”. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: “Apakah kamu bisa mendapatkan budak untuk kamu bebaskan?” Orang itu menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya: “Apakah kamu sanggup berpuasa selama dua bulan berturut-turut?” Orang itu menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya: “Apakah kamu bisa mendapatkan makanan untuk diberikan kepada enam puluh orang miskin?” Orang itu menjawab, “Tidak”. Sejenak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terdiam. Ketika kami masih dalam keadaan tadi, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diberikan satu keranjang besar berisi kurma. Beliau bertanya: “Mana orang yang bertanya tadi?” Orang itu menjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Ambillah keranjang ini dan bersedekahlah dengan kurma ini”. Orang itu bertanya, “Apakah aku bersedekah kepada orang yang lebih faqir dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada keluarga yang tinggal diantara dua perbatasan (yang dia maksud adalah dua gurun pasir) yang lebih faqir daripada keluargaku.” Mendengar itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tertawa hingga tampak gigi seri beliau. Kemudian beliau bersabda: “Berilah makan keluargamu dengan kurma itu”.
[HR al-Bukhari no. 1800, Muslim no. 1870]

25

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ وَاحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ

Dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berbekam ketika sedang berihram dan pernah pula berbekam ketika sedang berpuasa.
[HR al-Bukhari no. 1802]

Bekam (Canduk) ialah suatu terapi pengobatan yang dilakukan dengan mengeluarkan darah dari tubuh seseorang menggunakan peralatan tertentu.

26

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَرَأَى زِحَامًا وَرَجُلًا قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ فَقَالَ مَا هَذَا فَقَالُوا صَائِمٌ فَقَالَ لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ

Jabir bin 'Abdullah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah dalam suatu perjalanan melihat kerumunan orang, yang diantaranya ada seseorang yang sedang dipayungi. Beliau bertanya: “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Orang ini sedang berpuasa”. Maka Beliau bersabda: “Bukanlah suatu kebajikan berpuasa dalam safar (perjalanan jauh)”.
[HR al-Bukhari no. 1810, Muslim no. 1879]

27

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَعِبْ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Kami pernah bepergian (safar) bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka (tidak berpuasa) dan orang yang berbuka juga tidak mencela orang yang berpuasa”.
[HR al-Bukhari no. 1811, Muslim no. 1884]

10 Ilusi Optik Pilihan (1)

1. a dancing gingerbread house (rumah roti jahe yang menari) 

2. one of the best moving illusions we've seen (salah satu ilusi bergerak terbaik yang pernah kita lihat)

3. hovering crosswalk (rambu penyeberangan yang melayang)

4. the two pears are the same color (kedua buah pir ini berwarna sama)

5. A and B are the same color (area A dan B berwarna sama)

6. tampak berpendar

7. tampak bergerak

8. tampak berputar

9. tiga tabung berputar

10. buih di atas gelombang




40 Hadits Seputar Ramadhan (4)


19

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَكَلَ نَاسِيًا وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa makan karena lupa bahwa dia sedang berpuasa, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya. Karena sesungguhnya Allah yang telah memberinya makan dan memberinya minum.”
[HR al-Bukhari no. 6176, Muslim no. 1952]

20

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mencium dan mencumbu (isteri-isteri beliau) padahal beliau sedang berpuasa. Dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan nafsunya dibanding kalian.”
[HR al-Bukhari no. 1792, at-Tirmidzi no. 661]

21

عَنْ لَقِيطِ بْنِ صَبِرَةِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي عَنْ الْوُضُوءِ قَالَ أَسْبِغْ الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

Dari Laqhith bin Shabirah berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang wudhu?” Beliau menjawab: “Sempurnakanlah wudhu, basuhlah sela-sela jarimu dan lakukanlah istinsyaq (membersihkan rongga hidung) dalam-dalam, kecuali jika kamu sedang berpuasa.”
[HR at-Tirmidzi no. 718, Abu Dawud no. 123]

Istinsyaq adalah membersihkan rongga hidung dengan cara menghirup air ke dalam hidung kemudian menyemburkannya kembali.

22

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ أَحَدٌ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Apabila hari seseorang kalian berpuasa, maka janganlah ia berbuat rafats (berbuat atau berkata yang tidak senonoh) dan jangan berbantah-bantahan. Maka jika ada seseorang mencelanya atau mengajaknya bertengkar, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku berpuasa”.
[HR Ahmad no. 24875, al-Bukhari no. 1771]

23

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ بِأَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya (tidak menerima puasanya –pent.)
[HR at-Tirmidzi no. 641, al-Bukhari no. 1770]

Tanda-tanda Sebelum Kelahiran Nabi

عَنْ أَبَا أُمَامَةَ قَالَ قُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ مَا كَانَ أَوَّلُ بَدْءِ أَمْرِكَ قَالَ دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ وَبُشْرَى عِيسَى وَرَأَتْ أُمِّي أَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ مِنْهَا قُصُورُ الشَّامِ

Dari Abu Umamah berkata: Aku pernah bertanya, “Wahai Nabi Allah, bagaimana permulaan urusan Anda?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Doa ayahku (kakek moyangku) Ibrahim serta khabar gembira ‘Isa. Dan ibuku pernah bermimpi melihat cahaya keluar dari tubuhnya dan cahaya itu menyinari istana-istana Syam.”
[HR Ahmad no. 21231]

عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ السُّلَمِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ وَإِنَّ آدَمَ لَمُنْجَدِلٌ فِي طِينَتِهِ وَسَأُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِ ذَلِكَ دَعْوَةِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ وَبِشَارَةِ عِيسَى قَوْمَهُ وَرُؤْيَا أُمِّي الَّتِي رَأَتْ أَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ وَكَذَلِكَ تَرَى أُمَّهَاتُ النَّبِيِّينَ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ

Dari al-‘Irbadh bin Sariyah as-Sulami berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Saya adalah hamba Allah, di Ummul Kitab (Lauh al-Mahfuz) adalah penutup para Nabi. Sedangkan Adam dahulu tergeletak di tanah. Dan saya akan memberitahukan kepada kalian ta’wil hal itu. (Yaitu) doa bapakku Ibrahim, khabar gembira ‘Isa kepada kaumnya, dan mimpi ibuku yang melihat (dalam mimpinya) bahwasanya keluar dari (rahim)nya cahaya yang menyinari istana-istana Syam. Dan demikianlah (biasanya) mimpi ibu-ibu para Nabi shalawatullahi ‘alaihim.”
[HR Ahmad no. 16537]

عَنْ حَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ وَاَللَّهِ إنِّي لَغُلَامٌ  يَفَعَةٌ ابْنُ سَبْعِ سِنِينَ أَوْ ثَمَانٍ أَعْقِلُ كُلَّ مَا سَمِعْتُ إذْ سَمِعْتُ يَهُودِيًّا يَصْرُخُ بِأَعْلَى صَوْتِهِ عَلَى أَطَمَةٍ بِيَثْرِبَ يَا مَعْشَرَ يَهُودِ، حَتَّى إذَا اجْتَمَعُوا إلَيْهِ قَالُوا لَهُ وَيلك مَالك؟ قَالَ طَلَعَ اللَّيْلَةَ نَجْمُ أَحْمَدِ الَّذِي وُلِدَ بِهِ.

Dari Hassan bin Tsabit berkata, “Demi Allah, sungguh saya (dahulu) adalah seorang anak laki berusia tujuh atau delapan tahun, (waktu itu) saya telah mengerti semua yang saya dengar. Ketika saya mendengar seorang Yahudi berteriak dengan sekeras-keras suaranya, di atas perbukitan Yatsrib, “Wahai orang-orang Yahudi!” Maka ketika mereka berkumpul di hadapannya, mereka berkata kepadanya, “Ada apa denganmu?” Dia berkata, “Telah muncul malam ini bintang Ahmad yang menandai kelahirannya!”
[Sirah Nabawiyah oleh Ibnu Hisyam dengan sanad Hasan] 

Zaman Mesolitikum


Zaman Mesolitikum adalah periode dalam sejarah manusia yang berlangsung sekitar 10.000 hingga 5.000 tahun SM. Zaman ini merupakan masa transisi antara Zaman Paleolitikum dan Zaman Neolitikum, ketika manusia mulai beralih dari pola hidup sebagai pemburu-pengumpul ke pola hidup sebagai petani-peternak.

Selama Zaman Mesolitikum, manusia mulai mengembangkan teknologi yang lebih canggih untuk mempermudah kehidupan sehari-hari mereka. Salah satu contohnya adalah penggunaan alat batu yang lebih kecil dan halus, seperti mikrolit, yang digunakan untuk memotong, menajamkan, atau mengolah bahan-bahan seperti kayu, tulang, dan kulit. Selain itu, manusia juga mulai menggunakan teknologi lain seperti pancing dan jerat untuk menangkap ikan dan hewan-hewan kecil.

Pada Zaman Mesolitikum, manusia mulai bermukim secara tetap di tempat-tempat yang strategis seperti lembah sungai, danau, atau pesisir pantai. Hal ini memungkinkan mereka untuk memanfaatkan sumber daya alam yang lebih beragam dan melimpah untuk kebutuhan hidup mereka. Selain itu, kehidupan bermukim juga memungkinkan manusia untuk membentuk kelompok-kelompok sosial yang lebih besar dan kompleks.

Meskipun masih hidup sebagai pemburu-pengumpul, manusia pada Zaman Mesolitikum sudah mulai mengenal pertanian dan peternakan. Hal ini terlihat dari penemuan-penemuan arkeologi seperti bekas ladang, penggembalaan hewan, dan pemeliharaan hewan-hewan seperti anjing dan domba. Walaupun demikian, pertanian dan peternakan baru berkembang secara signifikan pada Zaman Neolitikum.

Secara keseluruhan, Zaman Mesolitikum menandai awal dari perubahan besar dalam cara hidup manusia, ketika mereka mulai mengembangkan teknologi yang lebih maju dan beralih dari pola hidup sebagai pemburu-pengumpul ke pola hidup sebagai petani-peternak. Meskipun masa ini relatif singkat, namun perkembangan teknologi dan perubahan pola hidup yang terjadi pada Zaman Mesolitikum merupakan fondasi bagi kemajuan manusia di masa-masa selanjutnya. 

40 Hadits Seputar Ramadhan (3)

14

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Makan sahur lah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu mengandung berkah”.
[HR al-Bukhari no. 1789, Muslim no. 1835]

15

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu berkata: Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian beliau bangkit untuk melaksanakan shalat (Shubuh). Aku bertanya, “Berapa lama antara adzan (Shubuh) dan sahur?” Dia menjawab, “Sekadar bacaan lima puluh ayat."
[HR al-Bukhari no. 1787, at-Tirmidzi no. 638]

16

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ بِلَالًا كَانَ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ قَالَ الْقَاسِمُ وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَ أَذَانِهِمَا إِلَّا أَنْ يَرْقَى ذَا وَيَنْزِلَ ذَا

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Bilal biasa melakukan adzan (pertama) di malam hari (sebelum masuk waktu fajar), maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum melakukan adzan, karena dia tidak melakukan adzan kecuali setelah terbit fajar”. Al-Qasim (salah seorang perawi –pent.) berkata, “Jarak antara adzan keduanya itu hanyalah sekadar yang satunya naik (menuju menara –pent.) dan yang satunya lagi turun (maksudnya waktunya tidak begitu lama, sekadar orang-orang sempat makan sahur –pent.).”
[HR al-Bukhari no. 1785]

17

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ اَلْوِصَالِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ فَإِنَّكَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ تُوَاصِلُ قَالَ وَأَيُّكُمْ مِثْلِي إِنِّي أَبِيتُ يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي فَلَمَّا أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا عَنِ اَلْوِصَالِ وَاصَلَ بِهِمْ يَوْمًا ثُمَّ يَوْمًا ثُمَّ رَأَوُا اَلْهِلَالَ فَقَالَ لَوْ تَأَخَّرَ اَلْهِلَالُ لَزِدْتُكُمْ كَالْمُنَكِّلِ لَهُمْ حِينَ أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari puasa wishal. Ada seorang muslim yang menyanggah, “Sesungguhnya engkau sendiri melakukan puasa wishal?” Rasul pun bersabda: “Siapa yang semisal denganku? Sesungguhnya aku di malam hari diberi makan dan minum oleh Rabbku.” Lantaran mereka tidak mau berhenti dari puasa wishal, Nabi berpuasa wishal bersama sehari lagi kemudian sehari berikutnya. Lalu mereka melihat hilal (awal masuk bulan Syawal), beliau pun bersabda: “Seandainya hilal itu tertunda, aku akan menyuruh kalian menambah puasa wishal lagi”. Sebagai bentuk hukuman bagi mereka yang enggan berhenti dari puasa wishal.
[HR Bukhari no. 1965 dan Muslim no. 1103]

18

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ

Dari 'Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendapatkan waktu fajar sedangkan beliau dalam keadaan junub karena (berhubungan dengan) istrinya. Kemudian beliau mandi dan berpuasa.
[HR al-Bukhari no. 1791, Muslim no. 1865]

40 Hadits Seputar Ramadhan (2)

10

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ 

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Allah Ta'ala berfirman: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasanya. Puasa itu adalah benteng, apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan puasa, maka janganlah dia berbuat rafats (tak senonoh) dan jangan berbuat keributan. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya bertengkar, maka hendaklah dia berkata, “Aku sedang berpuasa”. Demi (Allah) yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada wangi misik. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang dia akan bergembira dengan keduanya. Apabila berbuka dia bergembira dan apabila berjumpa dengan Tuhannya dia bergembira karena puasanya.”
[HR al-Bukhari no. 1771, Muslim no. 1944]

11

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Puasa itu benteng, maka janganlah ia berbuat rafats (tidak senonoh) dan jangan pula berbuat bodoh (sia-sia). Apabila ada orang yang mengajaknya bertengkar atau menghinanya maka katakanlah, “Aku berpuasa” (dua kali). Demi (Allah) yang jiwaku di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah Ta'ala daripada wangi misik. (Allah berfirman), Dia meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, sedangkan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang setimpal.”
[HR al-Bukhari no. 1761, Ahmad no. 7181]

12

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

Dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah, kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh ribu musim”.
[HR Muslim no. 1948, an-Nasai no. 2216]

13

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menginfaqkan dua pasang (hartanya) di jalan Allah, dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, “Wahai hamba Allah, inilah kebaikan (pahala dari apa yang kamu amalkan). Maka siapa yang dari ahlu shalat, dia dipanggil dari pintu shalat. Sapa yang dari ahlu jihad, dia akan dipanggil dari pintu jihad. Siapa dari ahlu puasa dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan. Siapa dari ahlu shadaqah dia akan dipanggil dari pintu shadaqah.” Maka Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata, “Demi bapak dan ibuku (sebagai tebusan) untukmu wahai Rasulullah, jika seseorang dipanggil diantara pintu-pintu tersebut adalah suatu kepastian, maka adakah orang yang akan dipanggil dari semua pintu-pintu itu?” Beliau menjawab: “Ya, dan aku berharap kamu termasuk diantara mereka”.
[HR al-Bukhari no. 1764, Muslim no. 1705]

40 Hadits Seputar Ramadhan (1)

1

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Islam dibangun atas lima: Syahadat bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah”.
[HR at-Tirmidzi no. 2534, al-Bukhari no. 7]

2

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Bila bulan Ramadhan tiba, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan dibelenggulah setan-setan”.
[HR Muslim no. 1793, an-Nasai no. 2070]

3

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan ihtisab (mencari pahala *), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.
[HR al-Bukhari no. 37, Muslim no. 1268]

*) Ihtisab (mencari pahala dari Allah) dengan menjaga puasanya dari hal-hal yang bisa membatalkan atau mengurangi pahala puasanya.

4

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorang dari kalian mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari (sebelumnya); kecuali orang yang sudah biasa melaksanakan puasa (sunnah, berbetulan jatuh pada hari itu) maka silakan berpuasa pada hari itu.”
[HR al-Bukhari no. 1781]

5

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Dari 'Aisyah radliyallahu 'anha berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam biasa berpuasa hingga kami mengatakan seolah-olah beliau tidak pernah tidak berpuasa, namun beliau juga biasa tidak berpuasa sehingga kami mengatakan seolah-olah beliau tidak pernah berpuasa. Maka aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau paling banyak melaksanakan puasa (sunnah) kecuali di bulan Sya'ban.”
[HR al-Bukhari no. 1833, Muslim no. 1958]

6

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Dari Usamah bin Zaid berkata: Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau banyak berpuasa dalam bulan-bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya'ban”. Beliau bersabda: “Itulah bulan yang orang-orang lalai darinya, bulan yang berada di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Dan ia adalah bulan yang di dalamnya amal-amal shaleh diangkat kepada Tuhan semesta alam. Maka aku suka bila amalku diangkat dan aku sedang berpuasa.”
[HR an-Nasai no. 2317, Ahmad no. 20758]

7

قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ الشُّغْلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Berkata Aisyah radhiyallahu 'anha, “Aku mempunyai hutang puasa Ramadhan, lalu aku belum mampu menunaikannya kecuali di bulan Sya'ban, karena kesibukanku dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam”.
[HR Muslim no. 1933]

8

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal bulan Ramadhan) dan berbukalah dengan melihatnya pula. Apabila kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah bilangan hari bulan Sya'ban menjadi tiga puluh.”
[HR al-Bukhari no. 1176]

9

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ شَهْرَانِ لَا يَنْقُصَانِ شَهْرَا عِيدٍ رَمَضَانُ وَذُو الْحَجَّةِ

Dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ada dua bulan yang tidak akan berkurang (balasan pahala dan kebaikannya, meskipun bilangan harinya terkadang kurang dari 30 hari –pent.), yaitu dua bulan hari raya: Ramadhan dan Dzulhijjah”.
[HR al-Bukhari no. 1779, Ahmad no. 19504]

The Prehistoric Period (Zaman Prasejarah)

The Prehistoric period of human history, before written records were kept, is often divided into three main eras: the Stone Age, the Bronze ...